Rupiah Menguat Tipis di Tengah Ketidakpastian Politik AS dan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed
- Team
- 1
- Posted on
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat tipis ke Rp16.561 pada Selasa (7/10/2025) di tengah ketidakpastian politik Amerika Serikat dan meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed akhir Oktober.
RupiahRadar – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatat penguatan tipis pada perdagangan Selasa (7/10/2025), di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) dan ketidakpastian politik di Washington.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 22 poin atau 0,31% ke level Rp16.561 per dolar AS. Sepanjang hari, mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp16.534 hingga Rp16.596 per dolar AS. Kendati demikian, secara tahunan rupiah masih mengalami pelemahan 2,66% sejak awal 2025.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,26% ke posisi 98,36, mencerminkan penguatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Faktor Global The Fed dan Krisis Politik AS
Pergerakan rupiah hari ini tak lepas dari sentimen global. Pasar keuangan dunia kini tengah menanti hasil rapat kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan pada 28–29 Oktober 2025. Ekspektasi pasar mengarah pada pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin, setelah data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan signifikan dalam dua bulan terakhir.
Chief Market Economist Spartan Capital Securities, Peter Cardillo, menjelaskan bahwa pasar saat ini berada dalam kondisi “bias momentum”. Di satu sisi, tekanan datang dari potensi penutupan pemerintahan (government shutdown) di AS, sementara di sisi lain muncul harapan bahwa The Fed akan mengambil langkah lebih longgar terhadap kebijakan moneter.
“Pasar memperkirakan The Fed akan lebih dermawan dalam kebijakannya dibandingkan perkiraan sebelumnya,” ujar Cardillo dikutip dari Reuters.
Indeks dolar sempat menguat setelah para pelaku pasar menilai peluang lebih dari 99% untuk pemangkasan suku bunga The Fed akhir bulan ini, mengacu pada data CME FedWatch Tool.
Tekanan dari Politik dan Geopolitik Dunia
Selain faktor kebijakan moneter, ketidakpastian politik di AS turut membayangi pasar. Para senator kembali gagal mencapai kesepakatan terkait proposal pengeluaran guna membuka kembali pemerintahan federal, yang kini sudah ditutup selama lebih dari satu minggu.
Dari sisi geopolitik, tensi juga meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi adanya komunikasi dengan kelompok Hamas terkait upaya perundingan damai di Mesir untuk mengakhiri konflik Gaza.
Sementara itu, Ukraina terus melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia, termasuk fasilitas kilang Kirishi dengan kapasitas produksi lebih dari 20 juta ton per tahun. Kondisi ini menambah ketidakpastian global yang berdampak pada pergerakan aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Kondisi Regional Mata Uang Asia Bergerak Variatif
Mata uang Asia pada perdagangan hari ini menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Yen Jepang melemah 1,87%, sementara won Korea terkoreksi 0,53%. Ringgit Malaysia dan peso Filipina juga melemah masing-masing 0,19% dan 0,83%.
Sebaliknya, dolar Taiwan dan yuan China mencatat penguatan tipis, menandakan masih adanya aliran dana masuk ke beberapa pasar Asia Timur.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi dari Asosiasi Pengusaha Valas Indonesia (APVA) menjelaskan bahwa volatilitas mata uang regional turut menekan pergerakan rupiah.
“Rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.580–Rp16.530. Sentimen pasar global masih didominasi oleh kebijakan The Fed dan situasi politik AS,” jelasnya.
Faktor Domestik Belanja Pemerintah dan Efisiensi Anggaran
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh keterlambatan penyerapan anggaran kementerian/lembaga (K/L) dalam tahun fiskal 2025.
Menurut Ibrahim, kebijakan efisiensi anggaran yang diterbitkan pada Februari 2025 membuat banyak instansi pemerintah harus menyesuaikan kembali alokasi belanja mereka.
Namun demikian, Kementerian Keuangan menyatakan optimistis bahwa penyerapan anggaran akan meningkat menjelang akhir tahun. Saat ini, sudah ada 12 K/L besar dengan realisasi belanja mencapai sekitar 80%, menandakan perbaikan dalam kinerja fiskal.
Prospek Rupiah ke Depan
Meski rupiah mencatat penguatan tipis hari ini, para analis memperkirakan volatilitas masih akan tinggi hingga keputusan The Fed benar-benar diumumkan.
Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan tetap melakukan intervensi ganda di pasar spot dan obligasi guna menjaga stabilitas nilai tukar.
“Kinerja rupiah akan sangat bergantung pada hasil keputusan The Fed dan perkembangan politik global. Jika The Fed benar-benar memangkas suku bunga, rupiah berpeluang menguat menuju Rp16.400 per dolar AS,” tambah Ibrahim.
Dengan kombinasi faktor global dan domestik yang masih beragam, investor diharapkan tetap waspada terhadap fluktuasi jangka pendek.
Rupiah berhasil menutup perdagangan di zona hijau setelah melemah di sesi awal. Meskipun tekanan eksternal masih tinggi, harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter AS memberikan sedikit ruang bagi rupiah untuk bernapas.
Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada rapat The Fed akhir Oktober, perkembangan politik AS, serta implementasi penyerapan anggaran domestik yang diharapkan dapat memperkuat fundamental ekonomi Indonesia di kuartal terakhir 2025.

One thought on “Rupiah Menguat Tipis di Tengah Ketidakpastian Politik AS dan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed”