pound

Produktivitas Inggris Anjlok, Pound Sterling Tertekan: Risiko Kenaikan Pajak Mengintai Anggaran Reeves

Pound Sterling melemah di tengah anjloknya produktivitas Inggris dan kekhawatiran fiskal yang dapat memaksa pemerintah menaikkan pajak atau menambah utang.

JAKARTA — Pound Sterling kembali kesulitan mempertahankan nilainya terhadap mata uang utama dunia, di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar atas kondisi ekonomi Inggris yang memburuk. Para investor menilai prospek fiskal Inggris semakin tidak menentu, terutama setelah muncul proyeksi penurunan produktivitas nasional yang berpotensi memperlebar defisit anggaran.

Mata uang Inggris ini mengalami tekanan berturut-turut sejak awal pekan dan ditutup melemah pada perdagangan Jumat (31/10/2025). Ketidakpastian fiskal dan ancaman kenaikan pajak menjadi faktor utama yang membebani sentimen pasar terhadap Pound.

Kantor Tanggung Jawab Anggaran Inggris (Office for Budget Responsibility/OBR) memprediksi bahwa produktivitas ekonomi Inggris akan menyusut sebesar 0,3%. Penurunan kecil ini tampak sepele di permukaan, namun memiliki dampak besar pada defisit anggaran — yang diperkirakan meningkat hingga £21 miliar dalam periode 2029–2030.

Situasi ini menimbulkan dilema besar bagi Kanselir Keuangan Rachel Reeves. Untuk menjaga keseimbangan fiskal dan mendanai program belanja publik, Reeves mungkin tidak memiliki banyak pilihan selain menaikkan pajak atau menambah pinjaman pemerintah.

Dilema Fiskal Pemerintah Inggris

Menurut Institute of Fiscal Studies (IFS), saat ini terdapat kekurangan dana sekitar £22 miliar dalam kas pemerintah. Dua opsi paling realistis untuk menutup celah tersebut adalah dengan menaikkan pajak pekerja atau memperbesar defisit melalui pinjaman baru. Namun, kedua langkah itu bertentangan dengan komitmen politik Partai Buruh yang berjanji tidak akan menaikkan pajak penghasilan, asuransi nasional (NI), maupun PPN.

Jika Reeves tetap memutuskan untuk menaikkan pajak, keputusannya bisa memicu ketidakpuasan publik dan merusak kepercayaan pasar terhadap stabilitas kebijakan fiskal Inggris. Sebaliknya, jika ia memilih meminjam dana lebih banyak, hal itu akan menempatkan Inggris pada risiko peningkatan utang jangka panjang yang dapat menekan nilai Pound lebih jauh.

Pound Sterling Melemah, Dolar AS Meningkat

Tekanan terhadap Pound semakin besar karena Dolar AS (USD) sedang menguat. Pasangan mata uang GBP/USD turun ke level terendah enam bulan di kisaran 1,3116, memperpanjang tren bearish selama empat hari berturut-turut.

Kenaikan Dolar AS terjadi setelah investor memangkas ekspektasi terhadap kebijakan dovish Federal Reserve (The Fed). Ketua Fed Jerome Powell menegaskan bahwa peluang pemangkasan suku bunga lanjutan pada Desember masih belum pasti, meski bank sentral baru saja menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00%.

Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas pemangkasan lanjutan di Desember telah menurun menjadi 72,8%, dari sebelumnya 91,1%. Dengan sentimen ini, Dolar AS terus menguat terhadap sebagian besar mata uang utama, termasuk Pound Sterling.

Selain faktor kebijakan moneter AS, pasar juga bereaksi positif terhadap kabar membaiknya hubungan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi bahwa kedua negara telah mencapai kesepakatan dagang baru di Kuala Lumpur, yang diharapkan segera ditandatangani minggu depan.

Optimisme perdagangan ini menambah kekuatan bagi Dolar AS, sekaligus memperlemah posisi Pound di pasar global.

Analisis Teknis GBP/USD: Tekanan Masih Berat

Secara teknikal, Pound Sterling menunjukkan sinyal pelemahan lanjutan. Pair GBP/USD masih berada di bawah Exponential Moving Average (EMA) 200-hari, yang kini berada di kisaran 1,3270 — level yang dianggap sebagai batas penting untuk menentukan arah tren jangka menengah.

Indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari turun di bawah level 40,00, menandakan dominasi sentimen bearish di pasar. Jika tekanan jual berlanjut, level psikologis 1,3000 berpotensi menjadi area support kuat berikutnya. Sebaliknya, kenaikan ke atas 1,3370 akan menjadi konfirmasi awal pemulihan Pound terhadap Dolar AS.

Fokus Pasar Selanjutnya

Para pelaku pasar kini menanti komentar dari pejabat The Fed, seperti Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, yang dijadwalkan berbicara pada sesi perdagangan Amerika Utara. Ucapan keduanya dapat memberi petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter AS menjelang akhir tahun.

Sementara itu, dari sisi domestik Inggris, perhatian akan tertuju pada langkah-langkah yang akan diambil Kanselir Reeves untuk menjaga kredibilitas fiskal tanpa melanggar janji politiknya. Pilihan yang diambil pemerintah Inggris dalam beberapa minggu mendatang akan sangat menentukan arah pergerakan Pound Sterling di pasar global.

Jika produktivitas terus melemah dan langkah fiskal tidak segera dikonsolidasikan, Pound berisiko terjebak dalam tekanan jangka panjang — menghadapi badai dari dua sisi: pelemahan ekonomi dalam negeri dan kekuatan Dolar AS yang terus mendominasi.

Previous Post Next Post

One thought on “Produktivitas Inggris Anjlok, Pound Sterling Tertekan: Risiko Kenaikan Pajak Mengintai Anggaran Reeves

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *