Susu UHT Ramai Dikabarkan Langka di Ritel
- Team
- 1
- Posted on
Kabar kelangkaan susu UHT di sejumlah ritel memicu pembatasan pembelian. Badan Gizi Nasional menegaskan pasokan nasional aman dan produksi akan diperkuat.
BGN Tegaskan Pasokan Nasional Masih Aman
Kabar mengenai kelangkaan susu UHT di sejumlah gerai ritel modern belakangan ini ramai diperbincangkan di media sosial dan memicu kekhawatiran masyarakat. Isu tersebut semakin menguat setelah beberapa ritel menerapkan kebijakan pembatasan pembelian, dengan maksimal empat kemasan susu per konsumen. Kondisi ini menimbulkan spekulasi bahwa pasokan susu nasional tengah mengalami tekanan, terutama sejak bergulirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi ketersediaan susu UHT memang tidak merata di semua ritel. Di salah satu gerai Indomaret di kawasan Bekasi, stok susu UHT varian full cream dilaporkan telah kosong selama sekitar satu minggu. Hal tersebut dikonfirmasi langsung oleh petugas kasir setempat.
“Lagi kosong, Mas. Susu yang putih (UHT full cream) sudah sekitar semingguan, belum ada kiriman lagi,” ujar seorang kasir bernama Silvia saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, stok susu UHT yang biasanya cepat terisi kini langsung habis setiap kali pengiriman datang. Ia mengungkapkan bahwa produk tersebut diborong untuk memenuhi kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis.
“Kemarin diborong untuk MBG. Setiap masuk barang baru pasti langsung habis,” ungkapnya.
Kondisi Ritel Tidak Merata, Sebagian Masih Aman
Meski demikian, kondisi berbeda ditemukan di beberapa ritel lain di wilayah yang sama. Pantauan menunjukkan bahwa stok susu UHT di gerai Superindo dan Alfamart masih tersedia dengan cukup baik. Di ritel-ritel tersebut, tidak terlihat adanya pembatasan pembelian dan konsumen masih dapat membeli susu UHT secara normal.
Hal ini mengindikasikan bahwa kelangkaan susu UHT tidak terjadi secara menyeluruh, melainkan bersifat sporadis dan dipengaruhi oleh pola distribusi serta lonjakan permintaan di titik-titik tertentu.
BGN Akui Permintaan Tinggi, Namun Pastikan Pasokan Aman
Menanggapi isu yang berkembang, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang membenarkan bahwa susu menjadi salah satu komponen menu dengan tingkat permintaan tinggi dalam Program Makan Bergizi Gratis.
“Permintaan susu memang tinggi, karena kebutuhannya juga besar,” ujar Nanik saat ditemui di SMK Negeri 1 Jakarta, Kamis (8/1).
Meski demikian, Nanik menegaskan bahwa secara nasional, pasokan susu masih dalam kondisi aman. Pemerintah, kata dia, telah mengantisipasi peningkatan kebutuhan tersebut dengan menyiapkan langkah penguatan produksi dalam jangka menengah dan panjang.
Pemerintah Perkuat Produksi Susu Nasional
Untuk menjamin keberlanjutan pasokan, pemerintah saat ini tengah mendorong pembangunan fasilitas produksi baru di sektor susu. Nanik menyampaikan bahwa sejumlah pabrik baru sedang dibangun, bersamaan dengan upaya memperluas basis produksi melalui pengembangan peternakan.
“Sekarang sedang dibangun pabrik-pabrik baru. Pemerintah juga sedang membangun sekitar 500 peternakan,” jelasnya.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi susu nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan tertentu. Selain itu, penguatan sektor hulu dinilai penting agar lonjakan permintaan tidak kembali memicu gejolak ketersediaan di tingkat ritel.
Dampak Positif bagi Industri dan Tenaga Kerja
BGN juga menilai bahwa meningkatnya serapan susu untuk program MBG justru berpotensi memberikan efek positif bagi industri. Ketika permintaan meningkat secara konsisten, pabrik-pabrik pengolahan susu akan terdorong untuk menambah volume produksi.
“Kalau produknya laku, pabrik akan menambah volume. Kalau volumenya naik, otomatis kebutuhan tenaga kerja juga bertambah,” kata Nanik.
Dengan demikian, program MBG tidak hanya berperan dalam peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga berpotensi mendorong pertumbuhan industri dan penyerapan tenaga kerja di sektor pangan.
Aprindo: Ritel Menjual Sesuai Pola Permintaan Konsumen
Dari sisi pelaku usaha ritel, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin menjelaskan bahwa ritel pada prinsipnya menjual produk berdasarkan kebutuhan konsumen akhir. Penentuan jumlah stok biasanya mengacu pada rata-rata permintaan pada periode sebelumnya.
“Ritel itu menjual sesuai permintaan end user. Stok ditentukan dari penjualan bulan-bulan sebelumnya,” jelas Solihin.
Apabila terjadi lonjakan permintaan yang tidak biasa, ritel akan mengajukan permintaan tambahan stok kepada produsen. Namun, dalam kondisi tertentu, keterbatasan distribusi di tingkat ritel bisa saja terjadi meskipun pasokan di produsen masih tersedia.
Industri Disarankan Langsung ke Produsen
Meski tidak secara eksplisit menyinggung Program Makan Bergizi Gratis, Solihin mengakui bahwa saat ini banyak industri yang membutuhkan susu UHT dalam jumlah besar untuk berbagai keperluan. Kondisi ini membuat sebagian industri membeli produk tersebut melalui jalur ritel.
“Sekarang banyak industri yang membutuhkan komponen UHT untuk keperluan tertentu,” ujarnya.
Oleh karena itu, Solihin menyarankan agar pihak-pihak yang membutuhkan susu UHT dalam jumlah besar sebaiknya langsung berkomunikasi dengan produsen, bukan melalui ritel.
“Barangnya ada di produsen. Kalau butuh dalam jumlah besar, sebaiknya langsung hubungi produsen. Tinggal kebijakan produsennya untuk kebutuhan apa dan dipakai di mana,” kata Solihin.
Bukan Krisis, Melainkan Penyesuaian Permintaan
Secara keseluruhan, kabar kelangkaan susu UHT di ritel lebih mencerminkan ketidakseimbangan sementara antara distribusi dan lonjakan permintaan, bukan krisis pasokan nasional. Pemerintah melalui BGN menegaskan bahwa ketersediaan susu masih aman dan telah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat produksi ke depan.
Dengan penguatan sektor hulu, pembangunan pabrik baru, serta koordinasi antara industri, produsen, dan ritel, diharapkan pasokan susu UHT dapat kembali merata dan stabil, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat dan program pemerintah.

One thought on “Susu UHT Ramai Dikabarkan Langka di Ritel”