ihsg

IHSG Tancap Gas Awal Pekan, Bertahan di Atas 9.000 Jelang RDG BI dan Aliran Dana Asing

IHSG hari ini Senin 19 Januari 2026 diproyeksikan menguat dan bertahan di atas level 9.000, didukung sektor consumer cyclicals, keuangan, serta net buy asing jelang RDG BI.

Aliran Dana Asing Jadi Penopang Utama IHSG

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin, 19 Januari 2026, diperkirakan kembali melanjutkan tren positif dan tetap bertengger di atas level psikologis 9.000. Optimisme pasar didorong oleh kombinasi sentimen domestik yang kondusif, aliran dana asing yang kembali masuk, serta sinyal teknikal yang masih mendukung kelanjutan penguatan indeks di awal pekan ini.

Pada perdagangan sebelumnya, penguatan IHSG dipimpin oleh saham-saham dari sektor consumer cyclicals yang mencatatkan kenaikan 1,15%, serta sektor financials yang menguat 1,14%. Kinerja dua sektor tersebut menjadi tulang punggung pergerakan indeks, mencerminkan kembali tumbuhnya optimisme investor terhadap daya beli masyarakat dan stabilitas sektor keuangan nasional.

Dukungan signifikan bagi pergerakan IHSG datang dari arus dana asing. Berdasarkan catatan PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, investor asing membukukan net buy sebesar Rp474,49 miliar di pasar reguler. Aliran dana masuk ini menjadi sinyal positif bahwa minat investor global terhadap pasar saham Indonesia masih terjaga, meskipun sentimen global cenderung fluktuatif.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar tercatat menjadi incaran utama investor asing, di antaranya BBRI, PTRO, BMRI, INCO, dan JPFA. Saham-saham tersebut dinilai memiliki fundamental yang solid serta prospek pertumbuhan yang menarik, sehingga menjadi pilihan utama di tengah ketidakpastian global.

Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, menilai bahwa masuknya kembali dana asing turut memperkuat sentimen positif pasar domestik. Menurutnya, pelaku pasar saat ini tengah bersikap optimistis sembari menantikan keputusan penting dari otoritas moneter dalam negeri.

RDG BI Jadi Fokus Investor Domestik

Sentimen domestik utama yang menopang IHSG adalah agenda Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dijadwalkan berlangsung pada 20–21 Januari 2026. Konsensus pasar memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 4,75%, seiring dengan kondisi nilai tukar rupiah yang masih berada di bawah tekanan.

“Sentimen positif disebabkan para pelaku pasar menantikan RDG BI. Diperkirakan BI masih akan menahan suku bunga acuan di level 4,75% karena rupiah masih melemah,” ujar Reza Priyambada.

Keputusan untuk menahan suku bunga dinilai akan memberikan kepastian bagi pasar keuangan dan menjaga stabilitas makroekonomi. Kebijakan suku bunga yang akomodatif juga diharapkan dapat menopang pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi, yang pada akhirnya berdampak positif bagi kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia.

Wall Street Melemah, Dampak ke IHSG Terbatas

Di sisi eksternal, sentimen global cenderung kurang mendukung. Indeks utama bursa saham Amerika Serikat di Wall Street ditutup mayoritas melemah. Pelemahan tersebut dipicu oleh rilis kinerja sektor perbankan AS yang beragam, serta pembaruan data inflasi yang kembali menjadi perhatian pelaku pasar global.

Menurut Priyambada, investor global masih mencermati arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed), terutama terkait waktu dan besaran potensi penurunan suku bunga. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi di aset berisiko.

Meski demikian, dampak pelemahan Wall Street terhadap IHSG diperkirakan terbatas. Pasar saham Indonesia dinilai memiliki faktor penopang domestik yang cukup kuat, terutama dari sisi kebijakan moneter BI dan stabilitas sektor keuangan nasional.

Proyeksi Pergerakan IHSG Hari Ini

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, PT Reliance Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG pada perdagangan hari ini akan bergerak di rentang support 9.007 dan resistance 9.125, dengan kecenderungan menguat. Level tersebut mencerminkan area konsolidasi sehat setelah reli yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Secara teknikal, pergerakan IHSG masih menunjukkan sinyal yang konstruktif. Candle terakhir membentuk pola doji, yang mengindikasikan keseimbangan antara tekanan beli dan jual. Meski demikian, posisi indeks yang masih berada di atas moving average MA5 dan MA20 menunjukkan bahwa tren jangka pendek masih berada dalam jalur positif.

Selain itu, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) telah membentuk golden cross, yang umumnya diinterpretasikan sebagai sinyal lanjutan tren bullish. Kombinasi sinyal teknikal ini memperkuat keyakinan bahwa IHSG masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan dalam jangka pendek.

“Dengan kondisi teknikal tersebut, kami memproyeksikan IHSG hari ini akan mengalami penguatan,” jelas Priyambada.

Level 9.000 Jadi Psikologis Penting

Level 9.000 kini menjadi area psikologis penting bagi pelaku pasar. Keberhasilan IHSG bertahan di atas level ini akan memperkuat kepercayaan investor dan membuka peluang penguatan lanjutan menuju area resistance berikutnya. Namun, investor tetap diimbau untuk mencermati dinamika global dan pergerakan rupiah, yang dapat memengaruhi volatilitas pasar dalam jangka pendek.

Secara keseluruhan, kombinasi aliran dana asing, ekspektasi kebijakan BI yang stabil, serta sinyal teknikal yang positif menjadi modal utama bagi IHSG untuk “tancap gas” di awal pekan. Selama sentimen domestik tetap kondusif dan tekanan eksternal tidak meningkat tajam, IHSG berpeluang mempertahankan posisinya di atas 9.000 dan melanjutkan tren penguatan secara bertahap.

Previous Post Next Post

One thought on “IHSG Tancap Gas Awal Pekan, Bertahan di Atas 9.000 Jelang RDG BI dan Aliran Dana Asing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *