Harga Pangan Masih Panas Jelang Ramadan: Beras, Telur, hingga Bawang Jadi Sorotan Pemerintah
- Team
- 1
- Posted on
Menjelang Ramadan 2026, harga pangan strategis seperti beras, telur, cabai, dan bawang masih tinggi di sejumlah daerah. KSP menilai pasokan aman, namun distribusi dan disparitas wilayah menjadi tantangan utama pengendalian inflasi.
Tekanan Harga Pangan Masih Terasa Menjelang Ramadan
Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 2026, tekanan harga pangan di sejumlah wilayah Indonesia masih menjadi perhatian serius pemerintah. Kantor Staf Presiden (KSP) mencatat bahwa meskipun pasokan pangan nasional secara agregat berada dalam kondisi relatif aman, harga berbagai komoditas strategis belum sepenuhnya terkendali dan masih menunjukkan gejolak di tingkat daerah.
Sejumlah bahan pangan utama seperti beras medium, telur ayam ras, cabai, bawang merah, hingga minyak goreng Minyakita masih bertahan di level harga tinggi. Kondisi ini dinilai berisiko memicu tekanan inflasi, terutama karena permintaan pangan cenderung meningkat signifikan menjelang Ramadan.
Pelaksana Tugas Deputi II Bidang Perekonomian dan Pangan KSP, Popy Rufaidah, menyampaikan bahwa secara umum harga pangan strategis berada pada kategori aman hingga waspada. Namun, ia menegaskan bahwa beberapa komoditas masih memerlukan perhatian ekstra karena sensitif terhadap faktor cuaca, distribusi, dan biaya produksi.
“Hasil pemantauan kami menunjukkan harga pangan strategis secara umum masih terkendali, tetapi beras medium di sejumlah zona, serta cabai merah dan cabai rawit, masih perlu mendapat perhatian karena sangat sensitif terhadap cuaca dan distribusi,” ujar Popy dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Selasa (27/1).
Beras Medium Jadi Sorotan Utama Antar Zona
Beras medium menjadi komoditas yang paling mencolok karena menunjukkan perbedaan harga yang tajam antar wilayah. Berdasarkan pemantauan KSP per 23 Januari 2026, kondisi harga beras medium terbagi dalam tiga zona dengan status yang berbeda-beda.
Di zona 1, harga beras medium masih berada dalam kategori aman. Rata-rata harga tercatat sekitar Rp13.433 per kilogram, masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp13.500. Secara bulanan, kenaikan harga relatif tipis, hanya sekitar 0,18 persen.
Namun, kondisi berbeda terlihat di zona 2. Harga beras medium telah masuk kategori waspada dengan rata-rata Rp14.399 per kilogram, atau sekitar 2,86 persen di atas HET Rp14.000. Meski kenaikan bulanannya sangat kecil, posisi harga yang sudah melampaui HET tetap menjadi perhatian.
Situasi paling berat terjadi di zona 3, di mana harga beras medium masih berada dalam kondisi tidak aman. Rata-rata harga mencapai Rp18.475 per kilogram, atau sekitar 19,2 persen di atas HET Rp15.500. Meski secara bulanan terjadi koreksi turun hampir 1 persen, level harga tersebut masih dinilai terlalu tinggi.
Popy menegaskan bahwa persoalan beras saat ini bukan disebabkan oleh kekurangan stok nasional, melainkan oleh ketimpangan distribusi dan keterbatasan akses logistik antarwilayah.
Harga Telur dan Ayam Masih Tertekan Biaya Pakan
Tekanan harga juga datang dari sektor protein hewani. Harga telur ayam ras secara nasional per 23 Januari 2026 tercatat sekitar Rp33.800 per kilogram, atau sekitar 12,7 persen di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) Rp30.000. Meski terjadi penurunan bulanan sekitar 2,59 persen, harga telur masih belum kembali ke level ideal.
Salah satu penyebab utama mahalnya telur adalah tingginya harga jagung pakan ternak. Harga jagung di tingkat peternak saat ini masih berada di kisaran Rp7.000 per kilogram, lebih dari 20 persen di atas harga acuan. Disparitas harga antar daerah juga cukup lebar, mencapai sekitar 14 persen.
Kondisi serupa terlihat pada daging ayam ras, yang secara nasional masih berada pada status waspada dengan harga rata-rata sekitar Rp41.800 per kilogram, atau 4,5 persen di atas harga acuan. Meski terjadi penurunan bulanan, disparitas harga antar daerah masih mencapai sekitar 21 persen.
Bawang, Cabai, dan Minyakita Masih Bermasalah
Untuk komoditas hortikultura, bawang merah masih berada dalam kondisi tidak aman meskipun menunjukkan tren penurunan harga. Dalam satu bulan terakhir, harga bawang merah turun hampir 13 persen, namun masih berada di kisaran Rp45.700 per kilogram, sekitar 10 persen di atas HAP. Disparitas harga antar daerah pun masih tinggi, terutama di wilayah Papua.
Bawang putih bahkan mencatat kenaikan harga bulanan sekitar 0,94 persen, dengan harga nasional sekitar Rp42.900 per kilogram, atau hampir 13 persen di atas HAP. Sementara itu, cabai rawit merah meski mengalami penurunan tajam hampir 19 persen dalam sebulan terakhir, masih berada di atas HAP dengan disparitas antar wilayah yang sangat lebar, mencapai lebih dari 46 persen.
Adapun cabai merah keriting secara nasional sudah masuk kategori aman, namun ketimpangan harga di daerah masih menjadi tantangan karena disparitasnya mencapai sekitar 56 persen.
Sementara itu, harga Minyakita secara nasional masih bertahan di kisaran Rp18.000 per liter, jauh di atas HET Rp15.700. Penurunan harga yang terjadi dinilai belum cukup signifikan karena persoalan utama terletak pada kepatuhan HET dan distribusi hingga tingkat ritel.
Distribusi Jadi Kunci Pengendalian Inflasi Ramadan
KSP menegaskan bahwa tantangan utama pengendalian harga pangan saat ini bukan terletak pada pasokan nasional, melainkan pada distribusi antar daerah yang belum merata. Disparitas harga yang tinggi berpotensi memicu inflasi, terutama menjelang Ramadan.
Empat komoditas dinilai memiliki risiko sangat tinggi, yakni beras medium, cabai merah keriting, cabai rawit merah, dan jagung pakan. Berdasarkan data historis, tujuh komoditas diproyeksikan menjadi kontributor utama inflasi Ramadan, termasuk beras, cabai, Minyakita, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
Untuk itu, KSP mendorong intervensi pasar yang lebih dini dan berbasis wilayah, seperti operasi pasar, penyaluran beras SPHP, penguatan peran TPID, gerakan pangan murah, serta fasilitasi distribusi lintas daerah agar tekanan harga dapat diredam sebelum Ramadan tiba.

One thought on “Harga Pangan Masih Panas Jelang Ramadan: Beras, Telur, hingga Bawang Jadi Sorotan Pemerintah”