daging

Harga Daging Sapi Tetap Stabil Usai Mogok Pedagang, Pemerintah Jamin Pasokan Aman hingga Lebaran

Harga daging sapi nasional tetap stabil meski sempat terjadi mogok jualan pedagang di Jabodetabek. Pemerintah memastikan pasokan aman hingga Lebaran 2026 meski disparitas harga antarwilayah masih menjadi tantangan.

Harga Daging Sapi Nasional Terkendali Pasca Aksi Mogok

Harga daging sapi di tingkat nasional dipastikan tetap berada dalam kondisi aman dan terkendali, meskipun sempat terjadi aksi mogok jualan oleh pedagang daging sapi di wilayah Jabodetabek. Pemerintah menilai gejolak pasokan yang muncul akibat aksi tersebut tidak berdampak signifikan terhadap lonjakan harga di tingkat konsumen.

Pelaksana Tugas Deputi II Bidang Perekonomian dan Pangan Kantor Staf Presiden (KSP), Popy Rufaidah, menegaskan bahwa secara nasional harga daging sapi masih stabil dan hanya sedikit berada di atas harga acuan yang ditetapkan pemerintah.

“Harga daging sapi secara nasional masih berada dalam kondisi aman. Rata-ratanya sekitar Rp141 ribu per kilogram, hanya sedikit di atas harga acuan,” ujar Popy dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Selasa (27/1).

Kenaikan Tipis, Jauh dari Gejolak Harga

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per 23 Januari 2026, harga rata-rata nasional daging sapi tercatat sebesar Rp141 ribu per kilogram, sementara Harga Acuan Penjualan (HAP) berada di level Rp140 ribu per kilogram.

Dengan demikian, harga daging sapi nasional hanya sekitar 0,71 persen di atas HAP, dengan kenaikan bulanan yang tergolong sangat tipis, yakni 0,14 persen. Angka ini menunjukkan bahwa gejolak pasokan yang sempat terjadi tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih luas.

Menurut KSP, stabilitas ini mencerminkan ketahanan pasokan nasional, meskipun di lapangan sempat terjadi gangguan distribusi akibat aksi mogok pedagang.

Ketimpangan Harga Antarwilayah Masih Jadi Catatan

Meski harga nasional relatif stabil, pemerintah mengakui masih terdapat disparitas harga antarwilayah yang cukup signifikan. Popy menyebut ketimpangan harga terutama terjadi di daerah-daerah dengan akses logistik yang terbatas dan biaya distribusi yang tinggi.

“Harga nasional cukup stabil, namun ketimpangan antarwilayah masih ada, terutama di wilayah yang menghadapi kendala logistik,” ujarnya.

Data KSP mencatat disparitas harga daging sapi di tingkat daerah mencapai 11,54 persen, yang masuk dalam kategori ketimpangan sedang. Wilayah dengan harga tertinggi tercatat berada di Papua Tengah dan Kabupaten Nabire, dengan harga mencapai Rp200 ribu per kilogram.

Selain itu, harga tinggi juga ditemukan di Kabupaten Puncak Jaya (Rp200 ribu per kg), Kabupaten Karimun dan Lingga (Rp180 ribu per kg), serta Kapuas Hulu dan Kaimana yang masing-masing mencatat harga sekitar Rp180 ribu per kilogram.

Sebaliknya, daerah dengan harga daging sapi terendah berada di Kota Batam dan Kabupaten Rote Ndao, dengan harga sekitar Rp90 ribu per kilogram. Daerah lain seperti Timor Tengah Selatan, Malaka, dan Maluku Barat Daya mencatat harga di kisaran Rp100 ribu per kilogram.

Pergerakan Mingguan Relatif Terkendali

Secara mingguan, KSP mencatat harga daging sapi mengalami kenaikan di lima provinsi, penurunan di satu provinsi, dan relatif stabil di 32 provinsi lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga masih dalam batas wajar dan tidak bersifat meluas.

Popy menilai kondisi tersebut menandakan pasokan nasional relatif terjaga, meskipun distribusi ke wilayah tertentu masih memerlukan perhatian dan pengawalan lebih lanjut dari pemerintah pusat dan daerah.

“Kondisi ini menunjukkan pasokan nasional relatif aman, namun distribusi antarwilayah masih perlu terus dikawal agar ketimpangan harga tidak melebar,” katanya.

Latar Belakang Mogok Pedagang Jabodetabek

Sebagaimana diketahui, pedagang daging sapi di wilayah Jabodetabek sempat melakukan mogok jualan pada Kamis (22/1). Aksi tersebut dipicu oleh protes terhadap tingginya harga sapi hidup di tingkat feedlot yang dinilai memberatkan pedagang dan menekan margin keuntungan.

Mogok jualan tersebut sempat menyebabkan pasokan daging sapi di sejumlah pasar tradisional berkurang. Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama setelah pemerintah memfasilitasi dialog antara pedagang, asosiasi, dan importir sapi.

Pemerintah bersama Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) dan pelaku usaha feedlot akhirnya menyepakati harga sapi hidup di tingkat feedlot sebesar Rp55 ribu per kilogram, yang berlaku hingga periode Lebaran.

Ketua APDI Wahyu Purnama memastikan pedagang kembali berjualan mulai Jumat (23/1), meskipun aktivitas jual beli di sejumlah pasar masih membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya.

Stok Daging Aman hingga Idulfitri 2026

Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat ketersediaan stok daging sapi dan kerbau nasional hingga Idulfitri 2026 berada dalam kondisi aman. Total ketersediaan daging pada periode Januari–Maret 2026 diproyeksikan mencapai 185,4 ribu ton, sementara kebutuhan konsumsi diperkirakan sekitar 179 ribu ton.

Dengan demikian, terdapat surplus sekitar 6,3 ribu ton, yang menjadi bantalan penting dalam menjaga stabilitas harga menjelang bulan Ramadan dan Lebaran.

Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk menindak tegas pelaku usaha feedlot yang menjual sapi hidup di atas harga kesepakatan, guna menjaga stabilitas harga di tingkat pedagang dan konsumen.

Dengan penguatan pengawasan distribusi dan jaminan pasokan, pemerintah optimistis harga daging sapi dapat tetap terkendali dan tidak menjadi sumber tekanan inflasi pangan nasional.

Previous Post Next Post

One thought on “Harga Daging Sapi Tetap Stabil Usai Mogok Pedagang, Pemerintah Jamin Pasokan Aman hingga Lebaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *