australia

Inflasi Australia Memanas, AUD Menguat Seiring Hilangnya Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga RBA

Dolar Australia menguat setelah inflasi Oktober naik di atas ekspektasi, menghapus peluang pemangkasan suku bunga RBA. Namun tekanan harga tinggi dapat membebani AUD ke depan.

Inflasi Melonjak di Atas Target RBA

Dolar Australia (AUD) kembali menunjukkan penguatan setelah adanya kejutan dari data inflasi Australia terbaru. Laporan inflasi Oktober yang dirilis pemerintah memperlihatkan kenaikan harga konsumen yang melampaui proyeksi pasar. Hal ini langsung mengubah ekspektasi pelaku pasar mengenai arah kebijakan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA), terutama terkait potensi pemangkasan suku bunga yang sebelumnya mulai ramai diperhitungkan.

Commerzbank, melalui analis valas Tatha Ghose, menilai bahwa lonjakan inflasi ini menjadi pemicu utama AUD menguat dalam jangka pendek. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tekanan inflasi yang persisten dapat memberikan tantangan lebih besar bagi AUD dalam beberapa bulan mendatang.

Sebelum rilis data, pasar memperkirakan inflasi Australia akan tetap stabil. Namun kenyataannya, inflasi utama naik dari 3,6% menjadi 3,8% year-on-year, menjauh lebih jauh dari target inflasi RBA yang berada pada kisaran 2%–3%. Data ini menimbulkan kejutan bagi pelaku pasar yang sebelumnya berharap inflasi akan terus menunjukkan tren moderat.

Tidak hanya itu, metrik inflasi inti atau trimmed mean CPI, yang menjadi acuan RBA untuk menilai tekanan harga jangka panjang, kembali meningkat dari 3,0% menjadi 3,3%. Ini merupakan faktor yang lebih mencemaskan karena menunjukkan bahwa kenaikan harga terjadi secara lebih luas dan tidak hanya berasal dari kelompok barang tertentu.

Menurut Ghose, data tersebut jelas bertentangan dengan proyeksi RBA, di mana bank sentral sebelumnya memperkirakan inflasi inti tidak akan melonjak di atas 3% dalam waktu dekat.

“Prakiraan RBA tidak memperkirakan peningkatan pada tingkat trimmed mean di atas 3%. Lonjakan ini membenarkan asumsi bahwa siklus penurunan suku bunga telah berakhir untuk sementara waktu,” jelasnya.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga “Hilang Seketika”

Dengan inflasi yang kembali meninggi, pasar langsung mengoreksi pandangan mereka. Taruhan terhadap pemangkasan suku bunga lanjutan oleh RBA seketika menghilang. Sebelumnya, sejumlah analis mulai memprediksi potensi pelonggaran kebijakan pada 2025 karena adanya tanda-tanda perlambatan ekonomi global serta moderasi inflasi.

Namun kini, dengan inflasi berada di atas kisaran target dan menunjukkan pergerakan yang tidak terduga, RBA diperkirakan akan bertahan lebih lama pada suku bunga tinggi untuk memastikan inflasi kembali turun secara konsisten.

Ghose menegaskan bahwa perubahan ekspektasi inilah yang mendorong AUD menguat sementara. Pasar menyambut baik keputusan RBA yang kemungkinan besar akan tetap mempertahankan sikap moneter ketat (hawkish) demi menjaga stabilitas harga.

Tekanan Inflasi Berisiko Menekan AUD dalam Jangka Menengah

Meskipun data inflasi saat ini memberi dukungan bagi AUD, Commerzbank tetap memperingatkan adanya risiko koreksi di masa depan. Inflasi yang terus bertahan tinggi dapat menggerus suku bunga riil, yang merupakan salah satu indikator penting bagi daya tarik investasi mata uang sebuah negara.

“Inflasi yang terus-menerus tinggi kemungkinan akan membebani suku bunga riil dan dengan demikian AUD dalam beberapa bulan mendatang,” kata Ghose.

Dengan kata lain, jika inflasi tetap tak terkendali sementara pertumbuhan ekonomi melemah, investor berpotensi mulai menjauh dari AUD, khususnya jika imbal hasil yang ditawarkan tidak lagi kompetitif dibanding mata uang lain seperti USD.

Kondisi Makro: Tantangan Ekonomi Masih Berlanjut

Selain inflasi, Australia juga tengah menghadapi berbagai tantangan eksternal:

* Kinerja ekspor melambat seiring penurunan permintaan global

* Ketergantungan ekonomi pada China masih menjadi risiko utama

* Sektor perumahan menghadapi tekanan akibat suku bunga tinggi

* Konsumen domestik mulai menahan belanja karena biaya hidup meningkat

Kondisi ini berpotensi menahan penguatan AUD jika tidak diimbangi dengan pemulihan ekonomi yang lebih kuat.

Prospek AUD ke Depan

Kinerja AUD akan sangat bergantung pada tiga faktor utama:

Faktor Penggerak AUD Dampak Potensial
Inflasi & Kebijakan RBA Mendukung AUD dalam jangka pendek, berisiko negatif dalam jangka menengah
Kekuatan Ekonomi Global Penguatan AUD jika ekonomi China membaik
Pergerakan USD AUD berpeluang menguat jika tekanan pada Dolar AS meningkat

Pasar tetap waspada dengan rilis data ekonomi lanjutan di akhir tahun yang dapat memperkuat pandangan tentang arah suku bunga RBA.

* Inflasi Australia melonjak di atas ekspektasi, membuat AUD menguat

* Ekspektasi pemangkasan suku bunga sepenuhnya terhapus

* RBA kemungkinan menjaga sikap moneter ketat lebih lama

* Tekanan inflasi berkelanjutan bisa jadi bumerang bagi AUD ke depan

AUD saat ini menikmati dorongan positif, namun perjalanan ke depan masih penuh ketidakpastian terutama jika inflasi tidak kunjung terkendali dan pertumbuhan ekonomi mengalami pelemahan.

Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *