Dolar Australia Perkasa di Level Tertinggi 14 Bulan
- Team
- 0
- Posted on
Dolar Australia menguat ke level tertinggi 14 bulan di tengah sikap hawkish RBA, ekspektasi kenaikan suku bunga, serta sentimen global jelang rilis risalah FOMC dan dinamika ekonomi China.
Nada Hawkish RBA dan Prospek Suku Bunga Jadi Penopang
Dolar Australia (AUD) menunjukkan performa impresif pada awal pekan dengan menguat terhadap Dolar AS (USD) dan mencapai level tertinggi dalam 14 bulan di area 0,6727. Penguatan ini mencerminkan meningkatnya optimisme pasar terhadap arah kebijakan moneter Reserve Bank of Australia (RBA) yang semakin bernada hawkish, di tengah tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.
Pasangan mata uang AUD/USD bergerak stabil di zona penguatan, didukung oleh ekspektasi pasar bahwa RBA masih membuka peluang untuk kenaikan suku bunga lanjutan. Di sisi lain, pelaku pasar global juga menanti rilis Risalah Rapat FOMC bulan Desember, yang diperkirakan akan memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) pada 2026.
Risalah RBA Perkuat Ekspektasi Pengetatan Kebijakan
Risalah Rapat RBA bulan Desember menunjukkan perubahan sikap yang cukup jelas dari para pembuat kebijakan. Dewan RBA dinilai semakin kurang yakin bahwa kebijakan moneter saat ini sudah cukup ketat untuk menekan inflasi ke kisaran target. RBA juga menegaskan kesiapan untuk mengetatkan kebijakan lebih lanjut apabila tekanan harga tidak mereda sesuai proyeksi.
Sorotan utama pasar kini tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) kuartal IV yang dijadwalkan pada 28 Januari. Sejumlah analis memperkirakan bahwa inflasi inti yang lebih tinggi dari perkiraan dapat menjadi katalis bagi kenaikan suku bunga RBA pada pertemuan 3 Februari 2026.
Kondisi ini memberikan dukungan kuat bagi Dolar Australia, karena prospek suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset berdenominasi AUD di mata investor global.
Data Inflasi Australia Masih di Atas Target
Tekanan inflasi di Australia masih menjadi perhatian utama. Inflasi utama tercatat naik menjadi 3,8% pada Oktober 2025, meningkat dari 3,6% pada September, dan tetap berada di atas kisaran target RBA sebesar 2–3%. Selain itu, ekspektasi inflasi konsumen juga meningkat menjadi 4,7% pada Desember, dari level terendah tiga bulan sebelumnya di 4,5%.
Kondisi ini memperkuat argumen bagi RBA untuk mempertahankan sikap hawkish. Sejumlah bank besar, termasuk Commonwealth Bank of Australia (CBA) dan National Australia Bank (NAB), bahkan memproyeksikan suku bunga acuan RBA berpotensi naik ke 3,85% pada pertemuan kebijakan awal tahun 2026.
Peran China dalam Pergerakan Dolar Australia
Selain faktor domestik, sentimen eksternal juga turut memengaruhi pergerakan AUD. Bloomberg melaporkan bahwa Kementerian Keuangan China berencana memperluas investasi terarah ke sektor-sektor prioritas seperti manufaktur canggih, inovasi teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Langkah ini menyusul rapat akhir tahun yang menetapkan prioritas kebijakan fiskal China untuk tahun mendatang. Setiap dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi China dinilai akan berdampak positif bagi Australia, mengingat hubungan dagang yang erat antara kedua negara, terutama di sektor komoditas.
Namun demikian, risiko geopolitik di kawasan Asia juga menjadi perhatian. China dilaporkan meluncurkan latihan militer bertajuk “Misi Keadilan 2025”, yang mensimulasikan blokade di sekitar Taiwan. Latihan ini meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap potensi gangguan rantai pasok, pengiriman, serta implikasi lanjutan terhadap pasar valas regional.
Dolar AS Bertahan, Tapi Tekanan Tetap Ada
Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY) berhasil memulihkan pelemahan intraday dan diperdagangkan di sekitar 98,10. Meski demikian, Greenback masih menghadapi tekanan struktural akibat ekspektasi pasar terhadap dua kali penurunan suku bunga The Fed pada 2026.
Federal Reserve telah memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember, sehingga kisaran target kini berada di 3,50%–3,75%. Sepanjang 2025, The Fed telah melakukan pemangkasan kumulatif sebesar 75 basis poin, seiring perlambatan pasar tenaga kerja dan inflasi yang mulai melunak.
Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas 81,7% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Januari, sementara peluang pemangkasan 25 basis poin turun menjadi 18,3%.
Data Ekonomi AS Campuran
Sejumlah data ekonomi AS memberikan sinyal yang beragam. Klaim tunjangan pengangguran awal turun menjadi 214 ribu, lebih baik dari perkiraan pasar. Namun, klaim lanjutan justru meningkat, menandakan bahwa sebagian pencari kerja masih kesulitan kembali ke pasar tenaga kerja.
Sementara itu, data tertunda dari Biro Analisis Ekonomi AS (BEA) menunjukkan bahwa PDB AS tumbuh 4,3% (tahunan) pada kuartal III, melampaui ekspektasi pasar dan pertumbuhan kuartal sebelumnya. Data ini membantu menopang Dolar AS, meski belum cukup kuat untuk menekan penguatan AUD.
Analisis Teknikal AUD/USD: Bias Bullish Masih Dominan
Dari sisi teknikal, AUD/USD bergerak di sekitar 0,6720 dan tetap berada dalam pola ascending channel pada grafik harian, yang menandakan bias bullish berkelanjutan. Pasangan ini bertahan di atas Exponential Moving Average (EMA) 9-hari yang menanjak, mengonfirmasi tren naik jangka pendek.
Indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari berada di area 70, mengindikasikan momentum yang kuat meski sudah memasuki wilayah jenuh beli. Level resistance terdekat berada di 0,6727, tertinggi sejak Oktober 2024. Penembusan di atas area ini membuka peluang penguatan lanjutan menuju 0,6830, mendekati batas atas ascending channel.
Sebaliknya, kegagalan menembus resistance dapat memicu koreksi terbatas ke area 0,6683 (EMA 9-hari), diikuti support berikutnya di sekitar 0,6660. Penurunan lebih dalam berpotensi menguji area 0,6414, level terendah enam bulan.
Dolar Australia tampil solid dengan menembus level tertinggi 14 bulan, didukung oleh sikap hawkish RBA, inflasi yang masih tinggi, serta optimisme terhadap prospek ekonomi China. Meski Dolar AS masih bertahan, ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed membuat AUD/USD tetap berada dalam jalur bullish. Ke depan, rilis data inflasi Australia dan risalah FOMC akan menjadi katalis utama pergerakan pasar forex.
