IHSG 2026 Dibidik 9.800, Jalan ke 10.000 Terbuka
- Team
- 1
- Posted on
Bankir asing memproyeksikan IHSG naik hingga 9.800 pada 2026. Siklus komoditas, dorongan fiskal, dan stabilitas rupiah membuka peluang menuju 10.000.
RupiahRadar – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang awal tahun 2026 menunjukkan tren penguatan yang konsisten. Kinerja positif ini memunculkan optimisme bahwa IHSG berpeluang menembus level psikologis 10.000 dalam tahun berjalan. Sejumlah pelaku pasar menilai kombinasi faktor global dan domestik menciptakan landasan yang cukup kuat bagi kelanjutan reli pasar saham Indonesia.
Optimisme tersebut juga tercermin dari pandangan bank-bank asing yang mulai menaikkan proyeksi mereka terhadap pasar saham domestik. Meski tetap mengedepankan kehati-hatian, prospek IHSG dinilai lebih solid dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dengan dukungan komoditas dan kebijakan fiskal yang masih ekspansif.
Target IHSG Menurut DBS Bank
Senior Investment Strategist DBS Bank, Joanne Goh, memproyeksikan Jakarta Composite Index (JCI) atau IHSG cenderung meningkat sepanjang 2026. Namun, DBS menetapkan target indeks di level 9.800, sedikit di bawah ekspektasi sebagian pelaku pasar yang membidik angka 10.000.
Menurut Goh, target tersebut mencerminkan pendekatan realistis dengan mempertimbangkan berbagai risiko global yang masih membayangi. Meski demikian, proyeksi 9.800 tetap menunjukkan potensi kenaikan yang menarik dari level IHSG saat ini dan mengindikasikan keyakinan terhadap daya tahan ekonomi Indonesia.
Siklus Komoditas Masih Menguntungkan
Salah satu pendorong utama yang disoroti DBS adalah siklus komoditas global yang dinilai masih berada dalam fase positif. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan isu keamanan strategis, permintaan terhadap komoditas tetap kuat, terutama untuk energi dan bahan baku industri.
Kondisi ini dinilai menguntungkan Indonesia, yang memiliki keunggulan sebagai negara dengan sumber daya alam melimpah. Indonesia bahkan disebut sebagai satu-satunya pasar di kawasan ASEAN dan Asia yang memiliki basis komoditas sangat kuat dan beragam. Keunggulan ini memberikan bantalan alami bagi perekonomian nasional sekaligus mendukung kinerja emiten-emiten berbasis komoditas di bursa.
Fiskal Jadi Mesin Pertumbuhan
Selain komoditas, DBS juga menyoroti kebijakan fiskal sebagai pendorong besar pertumbuhan ekonomi Indonesia. Belanja pemerintah dinilai masih memiliki ruang untuk menopang konsumsi domestik, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap pasar saham.
Sektor-sektor yang diperkirakan paling diuntungkan dari stimulus fiskal antara lain telekomunikasi, perbankan, dan sektor konsumen. Peningkatan belanja dan aktivitas ekonomi di sektor-sektor tersebut diyakini akan mendorong pertumbuhan laba perusahaan, sehingga menarik minat investor baik domestik maupun asing.
Stabilitas Makro Lebih Baik dari Tahun Lalu
Goh menekankan bahwa kondisi ekonomi makro Indonesia pada 2026 dinilai lebih stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Stabilitas ini menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan investor, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Menurutnya, tahun sebelumnya merupakan periode yang cukup kuat bagi pasar saham Indonesia. Dengan basis yang sudah solid tersebut, stabilitas yang lebih besar justru berpotensi menciptakan lingkungan yang lebih kondusif untuk pertumbuhan lanjutan. Dalam konteks ini, pasar tidak lagi digerakkan oleh lonjakan ekstrem, melainkan oleh fundamental yang lebih sehat.
Pergantian Menteri Keuangan dan Dampaknya
DBS juga menyinggung pergantian menteri keuangan di Indonesia yang terjadi tahun lalu. Meski kerap dianggap sebagai faktor risiko, perubahan tersebut justru tidak menimbulkan gejolak signifikan. Sebaliknya, kondisi ekonomi makro tetap terjaga relatif stabil.
Hal ini dinilai sebagai sinyal positif bagi investor, karena menunjukkan ketahanan institusi dan kesinambungan kebijakan ekonomi. Stabilitas kebijakan fiskal dan pengelolaan anggaran menjadi elemen penting dalam menjaga kepercayaan pasar, khususnya bagi investor asing yang sensitif terhadap risiko kebijakan.
Prospek Rupiah Jadi Faktor Pendukung
Dari sisi nilai tukar, DBS melihat potensi stabilisasi rupiah pada tahun ini. Dengan posisi rupiah yang sempat melemah hingga kisaran Rp16.000 per dolar AS, risiko penurunan lanjutan dinilai relatif lebih terbatas.
Stabilitas nilai tukar memiliki peran krusial dalam menjaga inflasi, arus modal, dan kepercayaan investor. Rupiah yang lebih stabil dapat mengurangi tekanan biaya impor serta memberikan kepastian bagi dunia usaha. Dalam konteks pasar saham, kondisi ini menjadi faktor pendukung tambahan bagi pergerakan IHSG.
Peluang 10.000 Tetap Terbuka
Meski target resmi DBS berada di level 9.800, peluang IHSG untuk mendekati atau bahkan menembus 10.000 tetap terbuka. Hal tersebut sangat bergantung pada realisasi katalis positif seperti keberlanjutan siklus komoditas, efektivitas kebijakan fiskal, serta stabilitas ekonomi makro dan nilai tukar.
Namun, investor juga diingatkan bahwa perjalanan menuju level psikologis tersebut tidak akan berjalan lurus. Volatilitas jangka pendek tetap berpotensi terjadi, terutama dipicu sentimen global. Oleh karena itu, strategi investasi yang selektif dan berbasis fundamental dinilai lebih relevan dalam menghadapi dinamika pasar sepanjang 2026.

One thought on “IHSG 2026 Dibidik 9.800, Jalan ke 10.000 Terbuka”