ara

Dari Minus 2% ke Plus 0,67%, IHSG Berbalik Arah

IHSG berbalik arah setelah ambruk tajam kemarin. Indeks dibuka naik 0,67% usai sempat jatuh lebih dari 2% dalam waktu singkat.

RupiahRadar – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa (13/1/2026) dengan penguatan signifikan setelah mengalami guncangan tajam sehari sebelumnya. Pada pembukaan perdagangan pagi, IHSG naik 59,74 poin atau 0,67% ke level 8.944,46. Penguatan ini menjadi sinyal awal pemulihan sentimen setelah indeks sempat ambruk lebih dari 2% secara intraday pada perdagangan Senin.

Dari sisi pergerakan saham, mayoritas emiten dibuka di zona hijau. Sebanyak 337 saham tercatat menguat, 119 saham melemah, sementara 502 saham bergerak stagnan. Komposisi ini mencerminkan minat beli yang kembali muncul, meskipun sebagian pelaku pasar masih memilih bersikap wait and see.

Aktivitas Transaksi Mulai Menggeliat

Nilai transaksi pada sesi pagi tercatat mencapai Rp867,3 miliar, dengan volume perdagangan sebesar 1,46 miliar saham yang berpindah tangan dalam 132.500 kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun ikut bergerak naik menjadi Rp16.209 triliun.

Aktivitas ini menunjukkan bahwa pelaku pasar belum sepenuhnya keluar dari bursa pasca koreksi tajam. Sebaliknya, sebagian investor justru memanfaatkan momentum pelemahan sebelumnya untuk melakukan akumulasi selektif pada saham-saham tertentu.

Kilas Balik Ambruknya IHSG Kemarin

Pada perdagangan Senin, IHSG ditutup melemah 52 poin atau terkoreksi 0,58% ke level 8.884,72. Namun yang menjadi sorotan utama adalah kejatuhan mendadak indeks pada sesi kedua perdagangan. Tepat sekitar pukul 14.20 WIB, IHSG anjlok hingga 2,47% hanya dalam hitungan menit.

Koreksi tajam tersebut memicu kekhawatiran akan potensi penurunan lanjutan. Meski demikian, indeks mampu memangkas pelemahan secara signifikan dalam waktu singkat dan kembali ke kisaran minus kurang dari 1% menjelang penutupan. Pola ini menunjukkan bahwa tekanan lebih bersifat intraday dan tidak sepenuhnya didorong oleh sentimen fundamental negatif.

Analis Ungkap Penyebab Koreksi Mendadak

Sejumlah analis memberikan pandangan terkait anjloknya IHSG secara tiba-tiba. Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai koreksi intraday tersebut dipicu oleh aksi ambil untung di saham-saham sektor energi yang sebelumnya mencatat kenaikan cukup signifikan.

Sementara itu, ekonom sekaligus Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengaitkan koreksi pasar dengan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Menurutnya, sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan pasar saham Indonesia, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Dinamika Ekonomi Domestik Masih Positif

Memasuki tahun 2026, indikator ekonomi domestik menunjukkan pergerakan yang relatif dinamis. Dari dalam negeri, daya beli masyarakat menunjukkan pemulihan yang solid. Hal ini tercermin dari kinerja penjualan ritel yang tetap tumbuh kuat di akhir 2025.

Bank Indonesia melaporkan bahwa Indeks Penjualan Riil (IPR) pada November 2025 tumbuh 6,3% secara tahunan. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4,3% secara tahunan. Data tersebut menjadi sinyal positif bahwa konsumsi rumah tangga, sebagai kontributor utama pertumbuhan ekonomi, masih terjaga.

Kondisi ini memberikan dukungan fundamental bagi pasar saham, khususnya bagi emiten di sektor konsumsi, perbankan, dan telekomunikasi yang sensitif terhadap daya beli masyarakat.

Volatilitas Global Bayangi Pasar

Di sisi global, pasar keuangan masih dibayangi oleh berbagai sentimen eksternal. Volatilitas harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Pasar komoditas energi global membuka Januari 2026 dengan tren penguatan. Harga minyak mentah dunia mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak Oktober tahun lalu. Minyak Brent berada di level US$63,42 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$59,17 per barel.

Kenaikan harga minyak lebih dari 3% dalam sepekan dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya situasi di Iran.

Risiko Pasokan Energi Jadi Sorotan

Gelombang protes besar di Iran memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global. Sebagai salah satu produsen utama OPEC, potensi gangguan produksi di Iran memiliki dampak yang cukup signifikan.

Jika situasi memburuk hingga memicu pemogokan pekerja di sektor minyak, potensi kehilangan pasokan dapat mencapai 1,9 juta barel per hari. Angka ini dinilai cukup besar untuk mengguncang keseimbangan pasar minyak global, terlebih jika jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz turut terdampak.

Faktor Penahan Kenaikan Harga Minyak

Meski demikian, lonjakan harga minyak tertahan oleh perkembangan di kawasan lain. Pasar merespons positif sinyal dari Pemerintah Amerika Serikat yang berencana membuka kembali akses ekspor minyak Venezuela. Langkah ini berpotensi menambah pasokan minyak global dan meredam tekanan kenaikan harga yang berlebihan.

Bagi pasar saham Indonesia, kombinasi antara dinamika domestik yang relatif positif dan sentimen global yang fluktuatif menandakan bahwa volatilitas masih akan mewarnai perdagangan dalam waktu dekat. Penguatan IHSG di pembukaan hari ini menjadi ujian awal ketahanan pasar setelah guncangan tajam sebelumnya.

Previous Post Next Post

One thought on “Dari Minus 2% ke Plus 0,67%, IHSG Berbalik Arah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *