ihsg

IHSG Cetak Rekor Baru ke 8.710

IHSG kembali menorehkan all time high di level 8.710 pada 8 Desember 2025, didorong reli kuat di berbagai sektor. Simak analisis lengkap pergerakan indeks, transaksi jumbo, dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Reli Kuat Mengantar Pasar Saham Indonesia Raih All Time High

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan sejarah baru pada perdagangan Senin, 8 Desember 2025. Setelah menunjukkan penguatan stabil sejak pembukaan, IHSG akhirnya berhasil menembus rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH), ditutup pada level 8.710,6. Pencapaian ini mempertegas optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi domestik di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan.

Sejak awal sesi, IHSG bergerak mantap di zona hijau. Indeks sempat menyentuh level terendah hariannya di 8.642 sebelum kemudian melesat hingga titik tertinggi intraday di 8.720. Kinerja impresif ini menunjukkan sentimen risk-on yang semakin menguat di kalangan investor, terutama setelah beberapa data ekonomi nasional dan regional memberikan tanda-tanda stabilitas.

Secara keseluruhan, IHSG ditutup menguat 77,93 poin atau 0,90%. Penguatan yang cukup signifikan ini menjadi lanjutan dari tren positif yang sudah terlihat dalam beberapa pekan terakhir, mencerminkan masuknya aliran dana segar ke pasar equity Indonesia.

Transaksi Jumbo Mendorong Likuiditas

Lonjakan indeks pada hari ini juga didukung oleh aktivitas perdagangan yang sangat tinggi. Bursa mencatat 57,3 miliar saham berpindah tangan, dengan nilai transaksi mencapai Rp 27,3 triliun dari total 2,91 juta kali transaksi. Lonjakan nilai transaksi ini menunjukkan bahwa momentum penguatan didorong oleh partisipasi pasar yang luas, bukan sekadar aksi spekulatif jangka pendek.

Dari total saham yang diperdagangkan, 385 saham ditutup menguat, menandakan dominasi kuat di sisi bullish. Sementara itu, 265 saham melemah, dan 153 saham lainnya stagnan. Distribusi pergerakan saham ini memperlihatkan bahwa penguatan IHSG bersifat broad-based, menyentuh berbagai sektor mulai dari perbankan, konsumer, komoditas, hingga infrastruktur.

Lonjakan transaksi besar ini biasanya terjadi ketika investor institusi, baik lokal maupun asing, mengambil posisi strategis menjelang akhir tahun. Hal ini sekaligus menunjukkan keyakinan mereka terhadap outlook makroekonomi 2026, termasuk ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih solid dan kebijakan fiskal yang diproyeksi tetap akomodatif.

Sektor-Sektor Pendorong Penguatan IHSG

Meskipun artikelnya tidak merinci sektor mana yang memimpin penguatan, dalam kondisi seperti ini biasanya saham berkapitalisasi besar (big caps) memainkan peran penting. Saham-saham perbankan, energi, dan telekomunikasi pada umumnya menjadi motor utama pergerakan indeks karena kontribusi bobot yang besar dalam IHSG.

Sentimen positif yang memengaruhi sektor-sektor tersebut antara lain:

– Harapan terhadap penurunan inflasi secara bertahap.

– Stabilitas suku bunga yang mendukung pertumbuhan kredit.

– Pemulihan permintaan energi global.

– Transformasi digital yang terus mendorong bisnis telekomunikasi dan teknologi.

Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat investor semakin agresif masuk ke saham-saham unggulan, mendorong indeks mencetak rekor baru.

Kontras dengan Pelemahan Rupiah

Sementara IHSG menikmati reli yang kuat, kondisi berbeda terlihat pada pergerakan nilai tukar rupiah. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 47 poin atau 0,28% ke Rp 16.695 per dolar AS pada penutupan pasar spot sore hari.

Pelemahan rupiah ini mengindikasikan bahwa tekanan eksternal masih membayangi, terutama dari penguatan dolar AS yang didorong oleh ekspektasi kebijakan moneter global dan pergerakan yield obligasi negeri Paman Sam. Meski demikian, pelemahan rupiah tidak terlihat mengganggu optimisme investor di lantai bursa, terbukti dari derasnya arus transaksi dan penguatan indeks.

Biasanya, perbedaan arah antara IHSG dan rupiah seperti ini terjadi ketika investor asing fokus pada saham-saham tertentu yang memberikan potensi imbal hasil menarik, sementara sentimen valuta asing dipengaruhi oleh faktor global yang bersifat jangka pendek.

Prospek IHSG ke Depan

Dengan torehan rekor baru ini, pasar kini menantikan apakah IHSG mampu mempertahankan momentum ke level psikologis berikutnya. Beberapa faktor yang akan diamati pelaku pasar dalam waktu dekat meliputi:

* Kebijakan suku bunga bank sentral global.

* Rilis data ekonomi domestik seperti inflasi, neraca perdagangan, dan PDB.

* Arus dana asing menjelang akhir tahun.

* Outlook sektor komoditas dan energi.

* Sentimen investor terhadap stabilitas politik menjelang agenda nasional 2026.

Jika faktor-faktor tersebut bergerak positif, bukan tidak mungkin IHSG kembali mencetak rekor baru dalam waktu dekat.ihsg

Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *