ihsg

IHSG Terpukul: Aksi Jual Massal Dorong Indeks Terperosok di Bawah 8.000

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot lebih dari 3% ke bawah level 8.000 akibat aksi jual besar-besaran di saham-saham unggulan. Investor kini menanti laporan keuangan kuartal III dan keputusan suku bunga The Fed.

IHSG Terpukul: Aksi Jual Massal Dorong Indeks Terperosok di Bawah 8.000

JAKARTA — Pasar modal Indonesia mengalami tekanan hebat pada awal pekan ini. Senin (27/10/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun lebih dari 3% dan kehilangan pijakan di level psikologis 8.000. Hingga pukul 11.00 WIB, indeks melemah 3,34% atau turun sekitar 276 poin ke posisi 7.995,5.

Padahal, sesi pembukaan sempat memberikan harapan. IHSG dibuka menguat 0,61% dan bahkan menembus 8.300 di menit-menit awal perdagangan. Namun, euforia tersebut tak bertahan lama. Aksi jual besar-besaran segera melanda dan menghapus seluruh keuntungan awal.

Saham Konglomerat dan Perbankan Jadi Sumber Tekanan

Penurunan tajam IHSG terutama dipicu oleh aksi lepas saham di kelompok usaha milik konglomerat besar seperti Prajogo Pangestu dan Haji Isam. Saham-saham di bawah naungan grup mereka terkoreksi dalam, menyeret indeks ke zona merah.

Sektor perbankan besar juga tak luput dari tekanan. Bank BRI (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI) — dua saham dengan bobot besar di IHSG — ikut mencatat penurunan signifikan. Aksi ambil untung setelah reli panjang disebut menjadi penyebab utama gelombang jual ini.

“Setelah IHSG sempat menembus rekor baru di atas 8.300, sebagian investor memilih untuk merealisasikan keuntungan,” ujar seorang analis pasar modal di Jakarta.

Minim Katalis Domestik, Fokus Beralih ke Laporan Keuangan Kuartal III

Dengan sedikitnya sentimen positif dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada laporan kinerja kuartal III-2025. Hasil keuangan dari sektor perbankan, energi, dan pertambangan akan menjadi penentu arah berikutnya.

Jika hasil laporan keuangan tidak sesuai ekspektasi, tekanan jual bisa berlanjut, memperdalam koreksi IHSG dalam beberapa hari ke depan. “Investor akan menilai sejauh mana pertumbuhan laba perusahaan mampu bertahan di tengah kondisi ekonomi global yang melambat,” tambah analis tersebut.

Sentimen Global: Pasar Tunggu Sinyal dari The Fed

Dari luar negeri, pelaku pasar menanti keputusan penting dari Federal Reserve (The Fed) mengenai arah suku bunga. Jika bank sentral AS mempertahankan nada hawkish atau menunda pemangkasan suku bunga, tekanan pada aset berisiko — termasuk saham Indonesia — kemungkinan masih berlanjut.

Selain itu, rilis data inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS (PDB kuartal III) juga akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah pergerakan dolar AS dan aliran dana investor global.

Investor global juga mencermati agenda KTT ASEAN dan APEC di Asia, yang berpotensi membawa arah baru terhadap kebijakan perdagangan kawasan.

Bursa Asia Bergerak Campuran, Jepang Justru Mencetak Rekor

Berbeda dengan IHSG yang merosot, sebagian bursa Asia menunjukkan kinerja yang lebih beragam. Indeks Nikkei 225 di Jepang justru mencatat rekor baru, menembus 50.000 untuk pertama kalinya. Lonjakan ini didukung oleh harapan kemajuan negosiasi dagang AS–Tiongkok serta optimisme atas prospek ekonomi Jepang.

Sementara itu, indeks Topix juga naik 1,6%. Namun, kekuatan pasar Jepang tidak cukup menahan gelombang aksi jual di Asia Tenggara, di mana investor tampak melakukan rotasi portofolio setelah reli panjang sejak awal kuartal.

Investor Diingatkan Waspada Terhadap Volatilitas

Penurunan IHSG di bawah 8.000 menjadi sinyal bahwa pasar tengah memasuki fase konsolidasi besar. Meski ekonomi Indonesia secara makro masih solid, kombinasi profit taking, minimnya sentimen positif, dan ketidakpastian global berpotensi meningkatkan volatilitas dalam jangka pendek.

Analis menyarankan investor untuk bersikap defensif dan menunggu kejelasan arah dari laporan keuangan korporasi serta keputusan The Fed. Strategi akumulasi bertahap dinilai lebih aman daripada aksi beli agresif di tengah kondisi pasar yang belum stabil.

Previous Post Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *