IHSG Menguat di Awal Perdagangan ke Level 8.629
- Team
- 0
- Posted on
IHSG dibuka naik 0,23% ke level 8.629 menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru. Inflasi AS yang melandai serta penguatan bursa global membuka peluang Santa Claus Rally.
Optimisme Santa Claus Rally Menguat Jelang Libur Panjang
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pekan ini dengan pergerakan positif. Pada pembukaan perdagangan Senin (22/12/2025), IHSG tercatat naik 19,69 poin atau setara 0,23% ke level 8.629,25. Penguatan ini mencerminkan sikap optimistis investor yang mulai meningkat seiring semakin dekatnya periode libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru), sekaligus harapan akan berulangnya reli musiman akhir tahun atau yang dikenal sebagai Santa Claus Rally.
Sejak awal sesi, dinamika perdagangan menunjukkan kecenderungan yang cukup konstruktif. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 258 saham mencatatkan kenaikan harga, sementara 78 saham mengalami pelemahan dan 322 saham lainnya bergerak stagnan. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp407,30 miliar dengan volume perdagangan mencapai 471,12 juta saham yang berpindah tangan dalam 79.056 kali transaksi. Meski nilai transaksi masih tergolong moderat, dominasi saham yang menguat mencerminkan sentimen beli yang lebih kuat dibandingkan tekanan jual.
Efek Libur Panjang dan Ekspektasi Santa Claus Rally
Sentimen pasar hari ini tidak terlepas dari faktor musiman menjelang libur panjang akhir tahun. Dengan kalender yang menunjukkan hitungan hari menuju Natal dan Tahun Baru, aktivitas pasar biasanya dipengaruhi oleh strategi investor yang mulai menyesuaikan portofolio mereka. Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar kerap menantikan terjadinya Santa Claus Rally, yakni kecenderungan indeks saham bergerak naik pada pekan terakhir Desember hingga awal Januari.
Fenomena ini umumnya dipicu oleh beberapa faktor, seperti optimisme menjelang pergantian tahun, window dressing oleh manajer investasi, serta minimnya tekanan sentimen negatif karena absennya rilis data ekonomi besar. Namun demikian, pertanyaan klasik kembali muncul: apakah momentum ini lebih tepat dimanfaatkan untuk menambah posisi beli saham, atau justru menjadi waktu yang ideal untuk melakukan ambil untung setelah reli panjang sepanjang tahun.
Jawaban atas dilema tersebut sangat bergantung pada kondisi fundamental dan sentimen global yang menopang pasar. Dalam konteks saat ini, sentimen eksternal justru memberikan dukungan tambahan bagi pasar saham Indonesia.
Inflasi AS Melandai, Jadi Angin Segar bagi Pasar Global
Optimisme investor di pasar saham domestik salah satunya didorong oleh data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan tren pelonggaran. Inflasi AS tercatat mendingin ke level 2,7% secara tahunan (year-on-year), jauh di bawah ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan inflasi November berada di kisaran 3,1% yoy. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan inflasi 3,0% yoy yang tercatat pada September lalu.
Melandainya inflasi di Negeri Paman Sam dipandang sebagai sinyal positif bagi pasar keuangan global. Tekanan harga yang semakin terkendali membuka peluang bagi The Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih akomodatif, bahkan berpotensi memangkas suku bunga pada waktu yang lebih tepat. Ekspektasi ini mendorong minat investor terhadap aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang seperti Indonesia.
Bagi IHSG, kondisi ini menjadi katalis penting karena aliran dana asing masih memainkan peran krusial dalam menentukan arah indeks. Dengan inflasi AS yang lebih jinak, risiko gejolak global cenderung mereda, sehingga kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia ikut meningkat.
Rekam Jejak Positif IHSG di Bulan Desember
Secara historis, Desember dikenal sebagai bulan yang relatif bersahabat bagi pasar saham Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, IHSG hampir selalu ditutup menguat pada bulan terakhir tahun. Pengecualian hanya terjadi pada 2022 dan 2024, ketika tekanan eksternal dan volatilitas global menyebabkan kinerja pasar tertekan.
Berdasarkan catatan tersebut, peluang IHSG menutup perdagangan Desember di zona hijau diperkirakan mencapai sekitar 80%. Statistik ini menjadi salah satu dasar bagi pelaku pasar untuk tetap memelihara optimisme, meskipun kewaspadaan terhadap potensi koreksi jangka pendek tetap diperlukan, terutama menjelang libur panjang ketika likuiditas pasar cenderung menipis.
Bursa Asia-Pasifik Menguat, Fokus ke Kebijakan China
Dari kawasan regional, mayoritas bursa Asia-Pasifik bergerak menguat pada perdagangan Senin (22/12/2025). Sentimen positif muncul seiring investor menantikan keputusan suku bunga acuan yang akan diumumkan oleh China. Kebijakan ini menjadi sorotan utama karena suku bunga satu tahun memengaruhi sebagian besar pinjaman baru dan pinjaman yang masih berjalan, sementara suku bunga acuan lima tahun sangat berpengaruh terhadap pasar properti melalui kredit pemilikan rumah.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 melonjak 1,58%, sementara indeks Topix naik 0,86%. Penguatan ini terjadi setelah Bank Sentral Jepang menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 0,75% pada Jumat lalu, yang merupakan level tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Langkah tersebut mencerminkan keyakinan otoritas moneter Jepang terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Pasar saham Korea Selatan juga menunjukkan kinerja impresif. Indeks Kospi melonjak 1,83%, sementara indeks Kosdaq yang berisi saham-saham berkapitalisasi kecil naik 0,99%. Optimisme di pasar Korea didorong oleh harapan pemulihan sektor teknologi dan manufaktur.
Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 25.843, lebih tinggi dibandingkan penutupan terakhir indeks Hang Seng di 25.690,53. Hal ini mengindikasikan potensi pembukaan positif bagi pasar saham Hong Kong.
Wall Street Menguat, Saham Teknologi Jadi Penggerak
Sentimen positif global turut diperkuat oleh kinerja Wall Street pada akhir pekan lalu. Bursa saham AS mencatatkan kenaikan untuk hari kedua berturut-turut, dipimpin oleh saham-saham teknologi, khususnya di sektor kecerdasan buatan.
Saham Oracle melonjak 6,6% setelah TikTok menyetujui penjualan operasionalnya di Amerika Serikat kepada sebuah usaha patungan baru yang melibatkan Oracle dan investor ekuitas swasta Silver Lake. Kesepakatan ini dipandang sebagai katalis positif bagi sektor teknologi dan kembali membangkitkan minat investor pada perdagangan bertema kecerdasan buatan.
Indeks Nasdaq Composite naik 1,31% dan ditutup di level 23.307,62. Indeks S&P 500 menguat 0,88% ke level 6.834,50, sementara Dow Jones Industrial Average bertambah 183,04 poin atau 0,38% dan ditutup di 48.134,89.
Prospek IHSG: Peluang Masih Terbuka, Waspadai Volatilitas
Dengan kombinasi sentimen global yang positif, inflasi AS yang melandai, serta faktor musiman akhir tahun, peluang IHSG untuk mempertahankan tren penguatan masih terbuka lebar. Namun, investor tetap perlu mewaspadai potensi volatilitas jangka pendek akibat likuiditas yang menurun menjelang libur panjang. Strategi selektif dan manajemen risiko yang disiplin dinilai menjadi kunci untuk memaksimalkan peluang di tengah momentum akhir tahun ini.
