ihsg

IHSG Menguat di Tengah Pelemahan Rupiah: Pasar Tunggu Sinyal Ekonomi dari AS

IHSG naik 0,44% ke level 8.403 di sesi I perdagangan Rabu (12/11/2025), sementara Rupiah melemah ke Rp16.720 per dolar AS. Pasar menanti kabar dari ekonomi Amerika Serikat.

Pasar Saham Bergerak Positif Meski Rupiah Melemah

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi I, Rabu (12/11/2025), kembali menunjukkan penguatan di tengah ketidakpastian global. Indeks tercatat naik 0,44% ke level 8.403, menandai kelanjutan tren positif sejak awal pekan ini. Namun, di sisi lain, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS masih menunjukkan tekanan dan ditutup melemah di kisaran Rp16.720 per dolar AS.

Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar keuangan domestik yang cenderung optimistis terhadap prospek saham, meski tetap berhati-hati terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang masih menjadi sorotan pelaku pasar global.

Penguatan IHSG pada sesi pertama hari ini terjadi di tengah pelemahan Rupiah yang masih berlanjut. Beberapa analis menilai bahwa aliran dana asing yang masuk ke saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) menjadi salah satu pendorong utama kenaikan indeks.

Sektor yang menopang kenaikan IHSG antara lain adalah perbankan, konsumer, dan energi, dengan saham-saham unggulan seperti BBCA, BBRI, UNVR, dan BYAN mencatatkan penguatan signifikan. Optimisme terhadap pemulihan konsumsi domestik menjelang akhir tahun juga turut memberikan sentimen positif terhadap pasar saham Indonesia.

Namun, pelemahan Rupiah hingga menyentuh level Rp16.700 per dolar AS menjadi faktor penyeimbang. Tekanan terhadap mata uang Garuda terutama disebabkan oleh penguatan Dolar AS di pasar global, yang didorong oleh ekspektasi investor atas kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Menanti Sinyal dari Ekonomi Amerika Serikat

Para pelaku pasar saat ini menunggu rilis data inflasi dan tenaga kerja AS yang dijadwalkan pekan ini. Data tersebut akan menjadi acuan penting bagi kebijakan suku bunga The Fed ke depan. Jika data menunjukkan tekanan inflasi masih tinggi, pasar memperkirakan kemungkinan penundaan penurunan suku bunga hingga paruh pertama tahun 2026.

Kondisi tersebut berpotensi memperkuat Dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah. Namun di sisi lain, beberapa pelaku pasar melihat peluang koreksi terbatas, mengingat tren inflasi di AS mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.

“Investor masih berhati-hati menjelang pengumuman data inflasi AS. Selama belum ada kejutan besar, kami memperkirakan IHSG masih akan bergerak stabil dengan potensi penguatan terbatas,” ujar seorang analis pasar modal di Jakarta.

Faktor Domestik Tetap Menjadi Penopang IHSG

Dari sisi domestik, fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga dengan baik. Inflasi nasional terkendali di bawah 3%, dan neraca perdagangan masih mencatat surplus, didukung oleh ekspor komoditas utama seperti batubara, CPO, dan nikel.

Selain itu, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang tetap menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar valas dan operasi moneter turut memberikan keyakinan bagi pelaku pasar bahwa tekanan terhadap Rupiah masih dalam batas aman.

Sementara itu, pemerintah juga terus berupaya menarik investasi asing melalui penyederhanaan regulasi OSS (Online Single Submission) serta percepatan proyek infrastruktur strategis nasional. Upaya tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di atas 5% pada tahun 2025.

Sentimen Global Masih Menjadi Penentu

Di tingkat global, pasar saham Asia bergerak bervariasi. Indeks Nikkei 225 di Jepang dan Kospi Korea Selatan masing-masing mencatat penguatan moderat, sementara Shanghai Composite cenderung melemah akibat kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang melambat.

Pasar juga mencermati perkembangan hubungan perdagangan antara AS dan Tiongkok, yang belakangan menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah adanya kesepakatan baru terkait tarif ekspor. Stabilitas hubungan kedua negara tersebut akan sangat mempengaruhi arah pergerakan pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia.

Di sisi lain, harga minyak dunia yang bergerak naik ke kisaran USD 84 per barel memberi sentimen positif bagi saham-saham sektor energi di BEI, seperti ADRO, MEDC, dan PGAS. Namun, kenaikan harga minyak juga menimbulkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi impor, terutama bagi negara-negara importir minyak seperti Indonesia.

Outlook IHSG dan Rupiah ke Depan

Dengan kondisi pasar saat ini, sebagian besar analis memperkirakan bahwa IHSG berpotensi bergerak dalam rentang 8.350–8.450 dalam jangka pendek. Sementara itu, Rupiah diproyeksikan akan berada di kisaran Rp16.650–16.750 per dolar AS, bergantung pada hasil data ekonomi AS dan arah kebijakan moneter global.

Pelaku pasar disarankan untuk mempertahankan posisi defensif, dengan fokus pada saham-saham berfundamental kuat dan sektor yang memiliki prospek positif menjelang akhir tahun, seperti konsumsi, perbankan, dan energi.

Meskipun tekanan eksternal masih tinggi, sentimen domestik yang positif dapat menjadi penyeimbang. Jika aliran modal asing terus masuk dan BI mampu menjaga stabilitas moneter, maka IHSG berpotensi menembus level psikologis 8.500 dalam waktu dekat.

Kinerja IHSG pada Rabu (12/11/2025) menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia masih memiliki daya tahan tinggi meskipun Rupiah melemah. Optimisme investor terhadap fundamental ekonomi domestik dan stabilitas kebijakan pemerintah menjadi katalis positif di tengah ketidakpastian global.

Dengan pasar yang masih menunggu kabar dari Amerika Serikat, IHSG berpeluang mempertahankan momentum penguatan, sementara Rupiah diperkirakan akan bergerak stabil jika tekanan eksternal mulai mereda.

Previous Post Next Post

One thought on “IHSG Menguat di Tengah Pelemahan Rupiah: Pasar Tunggu Sinyal Ekonomi dari AS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *