IHSG Sesi 1 Naik 0,15%
- Team
- 1
- Posted on
IHSG sesi 1 ditutup naik 0,15% namun masih sulit IHSGmenembus level 8.400. BUMI kembali memimpin nilai transaksi, sektor kesehatan melonjak, dan sentimen pasar dibayangi ketidakpastian mengenai potensi pemangkasan suku bunga The Fed. Simak ulasan lengkap sentimen dan faktor penggerak pasar.
Sektor Kesehatan Melonjak dan BUMI Tetap Dominasi Transaksi
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi pertama pada Jumat dengan kenaikan tipis 0,15%, namun indeks masih menghadapi tantangan untuk menembus level psikologis 8.400. Meski pergerakannya positif, sentimen pasar tampak campuran, mencerminkan kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.
Di sepanjang sesi pertama, BUMI tetap menjadi saham dengan aktivitas perdagangan paling tinggi. Volume transaksi perusahaan batu bara tersebut mencapai 25,69 miliar lot dengan total nilai Rp 5,97 triliun. Aktivitas besar ini menunjukkan bahwa BUMI masih menjadi magnet bagi investor ritel dan institusi.
Namun berbeda dari dua hari terakhir, tekanan jual mulai muncul pada saham BUMI. Indikasi aksi ambil untung terlihat cukup jelas, mengingat saham ini sebelumnya mencatat lonjakan nilai transaksi secara konsisten. Meskipun demikian, partisipasi pasar terhadap BUMI masih sangat tinggi sehingga volatilitas tetap menjadi faktor penting yang perlu dicermati.
Sektor Kesehatan Memimpin Penguatan
Mengutip data Refinitiv, sektor kesehatan tampil sebagai pemenang sesi pertama dengan kenaikan signifikan 6,47%, menjadikannya sektor dengan performa terbaik hari ini. Lonjakan sektor ini didorong oleh kenaikan agresif saham Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ) yang kembali menyentuh auto reject atas (ARA). SRAJ menutup sesi dengan penguatan 20% hingga mencapai level 15.900.
Kenaikan SRAJ bukan hanya memberikan dorongan besar bagi sektor kesehatan, tetapi juga menunjukkan bahwa minat spekulatif terhadap saham-saham berkapitalisasi menengah masih cukup kuat di tengah minimnya katalis positif dari luar negeri.
Di belakang sektor kesehatan, sektor properti dan energi turut mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan masing-masing 2,2% dan 1,54%. Lonjakan sektor properti dipicu ekspektasi pemulihan bertahap di industri perumahan, sementara sektor energi menguat mengikuti kenaikan saham-saham batu bara tertentu dan pemulihan harga energi global.
DSSA Jadi Penggerak Utama IHSG
Kontributor utama kenaikan IHSG hari ini adalah Dian Swastatika Sentosa (DSSA). Perusahaan konglomerasi tersebut menyumbang 14,21 poin indeks, didorong oleh kenaikan harga saham sebesar 4,38% ke level 91.825. Sebagai salah satu saham dengan bobot besar, pergerakan DSSA memiliki pengaruh signifikan terhadap arah IHSG secara keseluruhan.
Kekuatan pada DSSA juga menunjukkan bahwa saham-saham berkapitalisasi besar masih menjadi penopang stabilitas indeks di tengah volatilitas pasar global.
Sentimen Global: Shutdown AS Berakhir, The Fed Masih Membayangi
Di akhir pekan ini, pelaku pasar global mengamati dua faktor utama yang berpotensi menggerakkan pasar:
-
Berakhirnya shutdown pemerintah Amerika Serikat, dan
-
Ketidakpastian arah kebijakan The Fed.
Shutdown pemerintah AS yang berlangsung selama beberapa minggu akhirnya berakhir setelah Presiden Donald Trump menandatangani RUU pendanaan pada Rabu malam waktu setempat. Berakhirnya kebuntuan ini disambut baik oleh pasar karena mengurangi risiko gangguan anggaran dan stabilitas fiskal AS.
Namun, kabar positif tersebut belum mampu menghapus ketidakpastian yang muncul dari komentar terbaru para pejabat The Fed. Chairman Jerome Powell sebelumnya menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga untuk Desember belum menjadi keputusan final. Ia menyampaikan bahwa The Fed masih perlu melihat perkembangan inflasi dan kondisi tenaga kerja secara lebih mendalam sebelum menentukan arah kebijakan selanjutnya.
Komentar para pejabat The Fed lainnya juga memperkuat nada kehati-hatian. Banyak dari mereka menyebut bahwa melakukan pelonggaran kebijakan untuk ketiga kalinya secara beruntun pada rapat 9–10 Desember mungkin bukan langkah yang tepat mengingat risiko inflasi masih cukup tinggi.
Pasar Menyesuaikan Ekspektasi: Peluang Rate Cut Kini 50:50
Dinamika pernyataan dari The Fed membuat pelaku pasar meninjau ulang ekspektasi mereka terhadap peluang pemangkasan suku bunga. Jika beberapa hari lalu probabilitas pemangkasan 25 basis poin masih berada pada rasio 2 banding 1, kini proyeksinya berubah menjadi 50:50.
Menurut data dari alat FedWatch CME Group, probabilitas implisit terjadinya pemangkasan suku bunga turun menjadi 49,3%. Alat tersebut menggunakan harga kontrak futures fed funds 30 hari untuk menghitung peluang perubahan kebijakan. Saat ini, harga futures mengindikasikan suku bunga di kisaran 3,775% pada akhir 2025, dibandingkan posisi saat ini di 3,87%.
Kepala kebijakan global dan strategi bank sentral di Evercore ISI, Krishna Guha, menyatakan bahwa perkembangan terbaru ini “mengikis keyakinan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada Desember, meski tidak memberikan keyakinan yang lebih kuat bahwa penundaan hingga Januari lebih tepat.”
Secara keseluruhan, IHSG sesi pertama berhasil menguat tipis meski dibayangi sentimen global yang beragam. Sektor kesehatan dan saham unggulan seperti DSSA memberikan dorongan positif, sementara dominasi transaksi BUMI tetap menjadi sorotan. Ke depan, arah IHSG masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan The Fed dan stabilitas pasar global.

One thought on “IHSG Sesi 1 Naik 0,15%”