IHSG Terkoreksi Usai Cetak Rekor: Saham Prajogo & Hapsoro Jadi Rebutan Investor
- Team
- 0
- Posted on
IHSG melemah 0,52% pada sesi kedua setelah menyentuh rekor baru di atas 8.600. Koreksi dipimpin saham-saham bank besar dan emiten teknologi, sementara saham milik Prajogo dan Hapsoro justru mencuri perhatian dengan lonjakan kuat.
Mayoritas Sektor Terkoreksi, Teknologi Paling Tertekan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Kamis (27/11/2025) setelah sehari sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi baru. Tekanan aksi ambil untung yang merebak di sejumlah saham unggulan membuat indeks kembali turun ke kisaran 8.500 pada akhir sesi pertama.
IHSG ditutup terkoreksi 0,52% atau turun 44,71 poin ke level 8.557,42 menjelang jeda perdagangan siang. Berdasarkan data perdagangan, jumlah saham yang melemah mendominasi pasar sebanyak 369 emiten, sedangkan 304 saham menguat dan 283 lainnya stagnan.
Aktivitas transaksi terpantau sangat ramai, mencapai Rp16,33 triliun dengan volume perdagangan lebih dari 30,56 miliar saham dalam 1,81 juta transaksi. Meski demikian, kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp15.674 triliun akibat pelemahan harga di emiten besar.
Mengutip data Refinitiv, hampir seluruh sektor memasuki zona merah. sektor teknologi mengalami tekanan paling dalam dengan koreksi 1,33%, diikuti oleh sektor keuangan yang turun 0,69%. Tren penurunan ini sejalan dengan memburuknya kinerja harga saham bank-bank besar dan emiten teknologi unggulan.
DCI Indonesia (DCII), sebagai salah satu penggerak utama sektor data center, turun cukup dalam dan menjadi salah satu pemberat signifikan bagi IHSG. Pelemahan sektor teknologi menambah ketidakpastian pelaku pasar, terutama karena konsentrasi kapitalisasi pasar sedang berada pada saham-saham berbasis digital.
Saham Perbankan Jumbo Jadi Beban IHSG
Saham bank berkapitalisasi besar — sering disebut bank jumbo — turut menjadi kontributor utama koreksi indeks. Bank Mandiri (BMRI) memimpin penurunan dengan merosot 2,89% ke level 4.880 per saham. Penurunan BMRI saja memberikan dampak negatif sebesar -12,07 poin pada IHSG.
Saham bank besar lainnya juga tidak mampu bertahan di zona hijau:
* Bank Negara Indonesia (BBNI) turun 1,81%
* Bank Central Asia (BBCA) melemah 0,89%
* Bank Rakyat Indonesia (BBRI) terkoreksi 0,53%
Kombinasi pelemahan bank jumbo menggambarkan aksi profit-taking yang masih dominan, terlebih setelah sektor keuangan sebelumnya menjadi tulang punggung kenaikan IHSG menuju level rekor terbaru.
Selain bank, DCI Indonesia juga menekan indeks hingga -7,28 poin setelah harga sahamnya jatuh 2,7%. Penyumbang negatif lain yang cukup tajam adalah:
* Dian Swastatika Sentosa (DSSA): -9,99 poin
* Telkom Indonesia (TLKM): -9,89 poin
Saham Grup Prajogo Pangestu Bangkit Kembali
Di tengah tekanan indeks, saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu kembali menarik perhatian investor dengan reli signifikan. Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) mencatat lonjakan paling tinggi sebesar 11,3%. Disusul oleh Chandra Daya Investasi (CDIA) yang terapresiasi 7,33%.
Kenaikan ini mengindikasikan minat spekulatif yang kembali mengalir ke saham-saham grup Barito, terutama yang sebelumnya berada dalam tren koreksi dalam beberapa sesi terakhir.
Saham Hapsoro Masih Jadi Primadona
Saham milik pengusaha Hapsoro (Abdul Rachman bin Hadi) juga menjadi incaran pasar. Rukun Raharja (RAJA) mencatat penguatan 6,15%, sementara Raharja Energi Cepu (RATU) melesat 7,02%. Arus beli yang kuat menunjukkan investor masih menilai sektor energi memiliki prospek cerah jelang akhir tahun.
Sementara dari sisi transaksi, Bumi Resources (BUMI) tetap menjadi saham dengan nilai perdagangan terbesar di pasar. Total transaksi pada emiten batu bara tersebut menembus Rp4,14 triliun, mengindikasikan masih masifnya minat pada saham berharga murah (penny stock) dengan likuiditas tinggi.
IHSG Sempat Cetak Rekor di Atas 8.600
Performa pasar saham Indonesia sebenarnya masih sangat impresif sepanjang tahun 2025. Pada perdagangan sebelumnya, IHSG berhasil menembus level psikologis 8.600 dan mencetak rekor baru — sebuah pencapaian yang menegaskan kekuatan aliran dana investor domestik dan kenaikan berkelanjutan kinerja emiten.
Bahkan dengan tersisa sekitar satu bulan menuju akhir tahun, optimisme terhadap IHSG untuk menembus target 9.000 masih sangat terjaga.
Prospek IHSG Masih Kuat, Tapi Risiko Ikut Menghantui
Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kompak menyatakan keyakinan bahwa indeks masih berpotensi bergerak naik. Optimisme tersebut didukung beberapa faktor fundamental:
* Kinerja ekonomi nasional masih solid
* Laba perusahaan tercatat (emiten) terus tumbuh positif
* Minat investor ritel makin meningkat
Meski demikian, euforia pasar juga diselimuti berbagai risiko yang perlu diwaspadai, antara lain:
* Kekhawatiran munculnya gelembung harga (market bubble)
* Potensi gejolak geopolitik global hingga isu perang dunia ketiga
* Volatilitas yang meningkat seiring kenaikan suku bunga global
Dengan dinamika yang tercipta hari ini, pasar menilai koreksi IHSG masih dalam batas wajar sebagai fase konsolidasi setelah reli yang sangat kuat. Aktivitas sektor tertentu yang tetap bullish — termasuk saham energi dan konglomerasi besar — menjadi bukti bahwa peluang kapitalisasi keuntungan masih terbuka luas bagi investor yang cermat membaca momentum.
