ihsg

IHSG Masih Tertahan di Zona Merah, Investor Tunggu Arah Pasar Usai Tekanan Saham Energi dan Prajogo Group

IHSG ditutup turun 0,35% di sesi I meski sempat rebound. Sektor energi dan saham Prajogo Group menekan indeks, sementara kesehatan dan konsumer non-primer memimpin penguatan.

IHSG Melemah Tipis di Sesi I, Tertekan Saham Energi dan Emiten Prajogo Group

Jakarta — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan volatilitas tinggi pada perdagangan Selasa (28 Oktober 2025). Setelah sempat anjlok mendekati 1% pada awal sesi, indeks utama Bursa Efek Indonesia itu sempat berbalik ke zona hijau, sebelum akhirnya menutup sesi I melemah tipis 0,35% atau turun 28,35 poin ke level 8.088,8.

Data perdagangan menunjukkan, 369 saham menguat, 307 melemah, dan 280 stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 11,7 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 18,21 miliar saham yang berpindah tangan dalam 1,45 juta kali transaksi. Angka ini menggambarkan aktivitas pasar yang masih cukup solid meski tekanan jual belum benar-benar mereda.

Sektor Energi Terpukul, Kesehatan Justru Bersinar

Menurut data Refinitiv, sebagian besar sektor masih berada di zona merah. Sektor energi menjadi yang paling tertekan dengan penurunan mencapai 2,16%, disusul bahan baku (-0,98%) dan utilitas (-0,96%).

Sebaliknya, sektor kesehatan memimpin penguatan dengan kenaikan 1,53%, diikuti oleh konsumer non-primer (1,44%). Kenaikan saham-saham di sektor kesehatan dinilai sebagai bentuk rotasi portofolio investor yang mencari aset defensif di tengah ketidakpastian global.

Saham DSSA Tekan Indeks, Saham Prajogo Pangestu Masih Jadi Sorotan

Kinerja IHSG siang ini tak lepas dari tekanan tajam pada saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA), milik Grup Sinar Mas, yang anjlok 6,81% ke level Rp82.750. DSSA tercatat sebagai pemberat terbesar indeks (top laggard) dengan kontribusi negatif 23,29 poin.

Selain itu, dua saham milik konglomerat Prajogo Pangestu, yakni Barito Renewables Energy (BREN) dan Chandra Asri Pacific (TPIA), juga berada di daftar penekan indeks dengan masing-masing -8,27 poin dan -4,52 poin.

Sebaliknya, Barito Pacific (BRPT) — yang juga bagian dari grup usaha Prajogo — justru naik 2,12% dan masuk dalam daftar Top Movers dengan kontribusi positif 4,36 poin terhadap IHSG. Pergerakan yang beragam ini menunjukkan pasar masih belum menemukan arah pasti untuk saham-saham terkait konglomerasi Prajogo Group setelah sentimen negatif dari isu MSCI.

Isu MSCI Bayangi Pasar, Investor Lakukan Reposisi Portofolio

Seperti diketahui, pada perdagangan sehari sebelumnya, saham-saham Prajogo Pangestu menjadi penyebab utama IHSG anjlok tajam akibat kabar yang beredar mengenai rencana MSCI (Morgan Stanley Capital International) untuk mengubah ketentuan free float dalam indeksnya.

Kabar tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa beberapa saham berkapitalisasi besar di Indonesia dapat terdampak dalam rebalancing indeks MSCI, yang berpotensi mendorong aksi jual oleh investor institusi global.

Namun sejauh ini, belum ada konfirmasi resmi dari MSCI. Beberapa analis menyebut bahwa penurunan saham-saham big cap ini bersifat sementara, dan bisa menjadi peluang akumulasi bagi investor jangka menengah jika faktor fundamental tetap solid.

Perdagangan Awal Pekan Masih Bergejolak

Awal pekan ini menjadi periode penuh tekanan bagi pasar modal domestik. IHSG sempat terperosok hingga 3,7% ke level psikologis 7.900, sebelum akhirnya rebound ke area 8.100 menjelang penutupan kemarin.

Kendati demikian, banyak analis menyebut bahwa penurunan tajam ini tergolong sebagai koreksi sehat. Pasalnya, tekanan jual tidak disebabkan oleh pelemahan fundamental ekonomi Indonesia, melainkan sentimen global dan faktor teknikal pasca reli panjang IHSG dalam beberapa pekan terakhir.

“Pasar tengah melakukan penyesuaian setelah kenaikan tajam sebelumnya. Investor institusi tampaknya sedang melakukan rotasi portofolio ke saham-saham defensif,” ujar seorang analis pasar modal di Jakarta.

Sentimen Eksternal Masih Membayangi: Dolar AS, The Fed, dan Harga Komoditas

Selain faktor domestik, sentimen eksternal turut berperan dalam pergerakan IHSG hari ini. Penguatan dolar AS dan impor tekanan global dari volatilitas harga minyak dunia membuat investor lebih berhati-hati.

Pasar juga menanti arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan mengumumkan pandangan terbarunya terkait prospek pemangkasan suku bunga menjelang akhir tahun. Ekspektasi pelonggaran moneter di AS masih menjadi faktor kunci yang akan mempengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Jika The Fed memberikan sinyal dovish, rebound IHSG bisa terjadi lebih cepat, terutama di saham-saham berkapitalisasi besar yang sempat terkoreksi dalam dua hari terakhir.

Optimisme Rebound Masih Terjaga

Meski indeks masih bergerak di bawah tekanan, sejumlah analis menilai potensi pemulihan IHSG tetap terbuka lebar dalam beberapa hari ke depan. Faktor teknikal menunjukkan bahwa zona 8.000 menjadi area support kuat, sementara potensi rebound akan diuji pada level resistance 8.150–8.200.

“Setelah aksi jual besar kemarin, ada peluang bargain hunting dari investor yang melihat valuasi mulai menarik. Selama fundamental makroekonomi Indonesia tetap stabil, arah IHSG dalam jangka menengah masih positif,” kata analis tersebut.

Dengan fundamental domestik yang solid, seperti inflasi terkendali dan pertumbuhan ekonomi di atas 5%, pasar diperkirakan akan bergerak stabil kembali setelah volatilitas jangka pendek ini mereda.

Perdagangan Selasa siang menunjukkan bahwa IHSG masih dalam fase konsolidasi setelah koreksi tajam, dengan tekanan terbesar datang dari saham energi dan beberapa emiten besar milik Prajogo Pangestu.

Namun, dengan adanya dukungan dari sektor kesehatan dan konsumer, serta optimisme terhadap arah kebijakan moneter global, rebound IHSG kemungkinan hanya soal waktu. Investor kini menanti kepastian dari sentimen eksternal, sambil mencermati arah pergerakan kapital besar di pasar domestik.

Previous Post Next Post

One thought on “IHSG Masih Tertahan di Zona Merah, Investor Tunggu Arah Pasar Usai Tekanan Saham Energi dan Prajogo Group

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *