IHSG Berbalik Turun 0,33% di Sesi I: Saham BCA dan Barito Tekan Indeks, BUMI Jadi Top Movers
- Team
- 1
- Posted on
IHSG melemah 0,33% di sesi pertama perdagangan Selasa (11/11/2025) ke level 8.363,15. Saham BCA dan Barito menekan indeks, sementara BUMI melonjak 28% setelah akuisisi tambang emas Australia senilai Rp698 miliar.
IHSG Berbalik Arah Setelah Sentuh Level Tertinggi Harian
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah pada perdagangan sesi pertama, Selasa (11/11/2025), setelah sempat dibuka menguat di awal perdagangan. Meski sempat menembus level 8.443, indeks akhirnya terkoreksi 0,33% atau turun 28,09 poin dan parkir di 8.363,15 pada jeda siang.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, dari total saham yang diperdagangkan, 429 saham melemah, 275 saham menguat, dan 252 saham stagnan. Aktivitas pasar tetap ramai, dengan nilai transaksi mencapai Rp15,35 triliun, melibatkan 42,61 miliar saham dalam lebih dari 1,9 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar tercatat masih solid di sekitar Rp15.235 triliun.
Pergerakan IHSG yang berfluktuasi ini terjadi di tengah sentimen global yang mulai membaik setelah kabar kompromi politik di Amerika Serikat (AS), namun tekanan dari saham-saham berkapitalisasi besar membuat indeks sulit bertahan di zona hijau.
Sektor Teknologi dan Kesehatan Jadi Penopang, Mayoritas Sektor Melemah
Mengutip data Refinitiv, hampir seluruh sektor mengalami pelemahan pada perdagangan sesi I. Sektor teknologi dan kesehatan menjadi satu-satunya yang masih bertahan di zona positif dengan kenaikan masing-masing 1,1% dan 0,59%.
Sebaliknya, sektor keuangan, energi, dan bahan baku menjadi pemberat utama pergerakan indeks. Koreksi tajam saham-saham big cap seperti Bank Central Asia (BBCA) dan emiten grup Barito menekan IHSG cukup signifikan.
Saham BBCA turun 1,75% ke level 8.425, menjadi kontributor terbesar penurunan indeks dengan beban sebesar -10,76 poin. Tekanan jual di saham perbankan besar ini menunjukkan masih adanya aksi ambil untung pasca reli panjang dalam beberapa pekan terakhir.
Saham-Saham Grup Barito Tekan IHSG
Selain BBCA, saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu juga ikut menekan IHSG.
-
Barito Renewables Energy (BREN) turun 2,2% ke level 10.000, menyumbang -8,58 poin terhadap indeks.
-
Barito Pacific (BRPT) ikut terkoreksi dan berkontribusi -5 poin.
-
Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) turun dengan dampak -3,72 poin, dan
-
Chandra Daya Investasi (CDIA) juga melemah, menyumbang -2,29 poin terhadap IHSG.
Konsolidasi di saham-saham grup Barito ini terjadi setelah sebelumnya sempat mencetak kenaikan signifikan selama dua bulan terakhir, sehingga investor cenderung melakukan profit taking.
BUMI Jadi Top Movers Setelah Akuisisi Tambang Emas di Australia
Di sisi lain, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) justru menjadi bintang utama perdagangan sesi I. Saham emiten batu bara milik Grup Bakrie ini melonjak 28% ke level 192 dan mencatatkan nilai transaksi tertinggi di BEI, mencapai Rp6,6 triliun.
BUMI menjadi Top Movers IHSG dengan kontribusi positif sebesar 10,78 indeks poin. Lonjakan ini dipicu oleh sentimen positif pasca perusahaan menyelesaikan akuisisi 100% saham perusahaan tambang emas asal Australia, Wolfram Limited (WFL), senilai Rp698,98 miliar.
Langkah ekspansi ini menandai diversifikasi bisnis BUMI ke sektor logam mulia, yang dinilai akan memperkuat portofolio bisnis perusahaan di luar batu bara dan memperluas prospek pendapatan jangka panjangnya.
Sentimen Eksternal: Kabar Positif dari AS Beri Napas Baru Pasar
Dari sisi global, kabar mengenai berakhirnya penutupan pemerintahan (shutdown) terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat turut memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan.
Senat AS dilaporkan telah mencapai kompromi politik untuk mengakhiri kebuntuan anggaran dan memulihkan pendanaan federal yang sempat kedaluwarsa sejak 1 Oktober. Jika disetujui oleh Kongres, kesepakatan ini akan memperpanjang pendanaan hingga 30 Januari 2026, memberi ruang stabilisasi fiskal jangka pendek.
Kabar tersebut membawa kelegaan bagi jutaan warga AS, termasuk ratusan ribu pegawai federal yang tak menerima gaji selama lebih dari sebulan, serta keluarga berpenghasilan rendah yang terdampak gangguan subsidi pangan. Investor global pun menyambut baik kabar ini, memicu peningkatan minat terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham Asia.
Namun, di tengah kabar baik tersebut, analis memperingatkan bahwa utang pemerintah AS yang kini mencapai US$38 triliun berpotensi tetap menjadi tekanan jangka panjang terhadap stabilitas ekonomi global.
Prospek IHSG: Konsolidasi Sehat di Tengah Sentimen Campuran
Secara teknikal, analis menilai koreksi IHSG pada sesi pertama merupakan bagian dari konsolidasi sehat setelah kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Level 8.350–8.300 diperkirakan akan menjadi area support kuat, sementara resistensi berada di sekitar 8.430–8.450.
Meski sebagian saham unggulan melemah, momentum positif dari sektor teknologi, kesehatan, dan pertambangan dapat menjadi penopang indeks di sesi berikutnya. Sentimen domestik seperti penguatan daya beli menjelang akhir tahun, serta potensi stimulus ekonomi tambahan dari pemerintah, juga bisa memberi angin segar bagi pasar.
Para pelaku pasar kini menantikan hasil rapat FOMC The Fed serta rangkaian data inflasi AS pekan ini, yang akan memberikan arah baru bagi pergerakan global dan nilai tukar rupiah.
Tekanan Jangka Pendek, Fundamental Tetap Kuat
Penurunan IHSG di sesi pertama perdagangan Selasa menunjukkan adanya tekanan jangka pendek akibat aksi profit taking di saham-saham big cap seperti BBCA dan BREN. Namun, fundamental pasar domestik masih kuat, tercermin dari tingginya nilai transaksi dan kapitalisasi pasar yang stabil di atas Rp15.000 triliun.
Dengan dukungan sentimen positif global, penguatan ekonomi dalam negeri, serta potensi stimulus pemerintah menjelang akhir tahun, IHSG masih memiliki peluang untuk rebound di sesi II atau pada perdagangan selanjutnya.

One thought on “IHSG Berbalik Turun 0,33% di Sesi I: Saham BCA dan Barito Tekan Indeks, BUMI Jadi Top Movers”