Neraca Transaksi Berjalan Tiongkok Tetap Kuat di Tengah Perang Tarif
- Team
- 1
- Posted on
Tiongkok berhasil mempertahankan surplus neraca transaksi berjalan di tengah perang tarif dengan AS berkat diversifikasi ekspor, efisiensi industri, dan inovasi teknologi. Standard Chartered memproyeksikan stabilitas tarif hingga 2026.
De-Eskalasi Perang Dagang dan Strategi Tiongkok
Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah menjadi salah satu isu ekonomi global paling berpengaruh dalam beberapa tahun terakhir. Namun, menurut analisis terbaru dari para ekonom Standard Chartered, puncak ketakutan terhadap perang tarif tampaknya telah berlalu. Bank tersebut memperkirakan bahwa tarif yang diberlakukan oleh kedua negara besar ini akan bertahan pada level saat ini hingga tahun 2026, menandakan periode stabilitas baru dalam hubungan perdagangan global.
Perjanjian perdagangan terbaru antara AS dan Tiongkok dianggap sebagai langkah penting menuju de-eskalasi ketegangan yang selama ini membayangi rantai pasok global. Kesepakatan tersebut mencakup konsesi timbal balik terkait tarif, kontrol ekspor, serta pembatasan perdagangan lainnya. Standard Chartered menilai perjanjian ini akan bertahan selama satu tahun dan membuka peluang bagi negosiasi lanjutan yang lebih pragmatis di masa depan.
Salah satu faktor penting dalam negosiasi ini adalah kontrol Tiongkok atas bahan baku langka (rare earth elements), yang terbukti menjadi alat tawar yang sangat efektif. Keunggulan ini memberikan Tiongkok kekuatan strategis yang diperkirakan akan bertahan selama beberapa tahun ke depan, membantu negara tersebut mempertahankan posisi dominannya dalam rantai pasok global.
Ekspor Tiongkok Masih Tangguh di Tengah Tarif Tinggi
Meskipun menghadapi tarif yang lebih tinggi dari Amerika Serikat, kinerja ekspor Tiongkok tetap solid sepanjang tahun 2025. Sementara itu, impor Tiongkok menunjukkan pelemahan dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya. Kondisi ini membuat ekspor neto menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tahun ini.
Standard Chartered mencatat bahwa surplus neraca transaksi berjalan (current account) Tiongkok mencapai titik tertinggi sejak 2011, mencerminkan kekuatan sektor ekspor yang berkelanjutan. Namun, daya tahan ini tidak hanya disebabkan oleh transshipment (pengalihan rute ekspor) atau front-loading (percepatan pengiriman barang sebelum tarif diberlakukan). Lebih dari itu, diversifikasi pasar, peningkatan kualitas produk, dan inovasi teknologi turut berperan besar dalam menjaga daya saing ekspor Tiongkok.
Faktor-Faktor yang Menopang Ketahanan Ekonomi
Selain faktor eksternal, struktur ekonomi domestik Tiongkok juga mengalami pergeseran signifikan. Melemahnya impor tidak semata-mata akibat lemahnya permintaan domestik, tetapi juga karena berkurangnya ketergantungan terhadap input impor seiring meningkatnya kemandirian industri dalam negeri. Pergeseran menuju produksi bernilai tambah tinggi serta penyeimbangan kembali ekonomi dari sektor padat karya menuju sektor berbasis teknologi juga menjadi pendorong utama.
Lebih lanjut, produktivitas faktor total (Total Factor Productivity / TFP) Tiongkok mulai menunjukkan tren positif setelah mengalami perlambatan panjang selama dekade 2010-an. Kenaikan efisiensi ini sebagian besar didorong oleh otomatisasi, digitalisasi, dan penerapan teknologi canggih di sektor manufaktur. Efek dari efisiensi ini bersifat disinflasi, yang artinya turut menekan biaya produksi dan memperkuat daya saing ekspor Tiongkok di pasar global.
Rencana Lima Tahun ke-15 dan Arah Kebijakan Ekonomi
Dalam kerangka Rencana Lima Tahun (Five-Year Plan/FYP) ke-15, pemerintah Tiongkok menempatkan teknologi dan ekspor jasa sebagai prioritas utama. Langkah ini dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah lanskap global yang semakin kompetitif.
Standard Chartered memperkirakan bahwa surplus neraca transaksi berjalan Tiongkok akan tetap signifikan dalam beberapa tahun mendatang. Revisi proyeksi terbaru mereka menunjukkan bahwa rasio surplus C/A terhadap PDB akan mencapai 3,3% pada 2025, 2,5% pada 2026, dan 2% pada 2027. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya, masing-masing sebesar 2,8%, 1,7%, dan 1,4%, menandakan prospek yang lebih kuat bagi ekonomi Tiongkok.
Inovasi sebagai Pilar Pertumbuhan Baru
Dalam menghadapi tekanan geopolitik dan tantangan eksternal lainnya, Tiongkok semakin menegaskan posisinya sebagai pusat inovasi global. Investasi besar dalam kecerdasan buatan, kendaraan listrik, dan energi terbarukan menjadikan negara ini lebih tangguh menghadapi perubahan ekonomi global. Kombinasi antara diversifikasi ekspor, peningkatan produktivitas, dan efisiensi manufaktur memberikan pondasi kokoh bagi ekonomi Tiongkok untuk tetap tumbuh meskipun berada dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian
Secara keseluruhan, analisis Standard Chartered menegaskan bahwa Tiongkok telah berhasil menavigasi badai perang tarif dengan strategi yang matang dan berorientasi jangka panjang. Dengan fokus pada diversifikasi, efisiensi, dan inovasi, negara tersebut tidak hanya mempertahankan surplus neraca transaksi berjalan yang kuat, tetapi juga memperkuat fondasi ekonominya untuk menghadapi tantangan global di masa depan.
Meskipun risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang, stabilitas tarif hingga 2026 dan peningkatan daya saing ekspor memberi sinyal positif bagi prospek ekonomi Tiongkok—dan pada akhirnya, bagi stabilitas perdagangan global secara keseluruhan.

One thought on “Neraca Transaksi Berjalan Tiongkok Tetap Kuat di Tengah Perang Tarif”