Pound Sterling Tertahan di Sekitar 1,33: Pasar Tunggu Keputusan BoE Setelah Data Inflasi Inggris Melemah
- Team
- 1
- Posted on
Pound Sterling (GBP) bergerak stabil terhadap Dolar AS setelah data inflasi Inggris melemah. Pelaku pasar menanti keputusan Bank of England (BoE) pada awal November di tengah ekspektasi pelonggaran suku bunga yang meningkat. Simak analisis lengkap pergerakan GBP/USD terbaru di sini.
Pound Sterling Bergerak Datar, Pasar Tenang Setelah Kejutan Inflasi
Nilai tukar Pound Sterling (GBP) terhadap Dolar AS (USD) diperdagangkan datar pada perdagangan Kamis (23/10), bergerak dalam kisaran sempit di sekitar 1,3350. Meski sempat berfluktuasi setelah rilis data inflasi Inggris (IHK) yang mengecewakan, mata uang Inggris kini tampak stabil dan berkinerja cukup baik di antara mata uang G10.
Menurut laporan dari Shaun Osborne dan Eric Theoret, Kepala Ahli Strategi Valas di Scotiabank, pasar tengah memasuki fase konsolidasi setelah volatilitas tajam yang terjadi di awal pekan. GBP bertahan berkat stabilisasi sentimen dan sedikit pemulihan ekspektasi terhadap Bank of England (BoE), meski tekanan terhadap kebijakan moneter longgar masih membayangi.
Sentimen Pasar Mulai Pulih Setelah Guncangan Inflasi
Data terbaru Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dirilis pada Rabu lalu menunjukkan pelemahan inflasi yang lebih tajam dari perkiraan. Hal ini sempat memicu penurunan tajam GBP karena pasar menilai bahwa BoE mungkin akan memangkas suku bunga lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Namun, sehari kemudian, sentimen pasar mulai stabil. Data survei CBI (Confederation of British Industry) menunjukkan hasil yang bervariasi, tetapi cukup untuk memberikan sedikit dorongan pada kepercayaan bisnis. Para investor kini menilai bahwa BoE akan tetap berhati-hati dan tidak terburu-buru melonggarkan kebijakan moneter.
Konsensus pasar saat ini memperkirakan:
-
Peluang pelonggaran BoE sebesar 9 basis poin (bps) pada pertemuan 6 November mendatang,
-
Total 17 bps hingga akhir tahun, dan
-
Sekitar 60 bps pemangkasan hingga September 2026.
Ekspektasi ini menunjukkan bahwa pasar sudah mulai menyesuaikan diri dengan realita ekonomi Inggris, yang kini menghadapi perlambatan inflasi namun juga pertumbuhan yang masih rapuh.
Selisih Imbal Hasil Inggris-AS Mulai Stabil
Selain faktor inflasi, selisih imbal hasil obligasi (yield spread) antara Inggris dan Amerika Serikat juga mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Setelah mengalami pelemahan tajam pasca-rilis IHK, kini pergerakannya kembali normal.
Menurut Osborne dan Theoret, penurunan premi risiko di pasar opsi juga menjadi sinyal positif bagi GBP. Pasar kini menunjukkan penurunan permintaan terhadap kontrak perlindungan dari pelemahan Sterling, yang menandakan kekhawatiran investor mulai mereda.
Namun, analis tetap mengingatkan bahwa situasi fiskal Inggris masih menjadi sorotan utama. Media lokal melaporkan bahwa pemerintah kemungkinan akan memperkenalkan langkah-langkah fiskal baru dalam rilis anggaran pada 26 November 2025. Setiap keputusan terkait subsidi energi, insentif pajak, atau pengeluaran publik dapat berdampak signifikan terhadap arah kebijakan BoE dan pergerakan Sterling ke depan.
Analisis Teknis: GBP Masih dalam Fase Konsolidasi
Dari sisi teknikal, Pound Sterling masih bergerak dalam kisaran konsolidasi yang relatif sempit. Osborne menyebutkan bahwa rentang perdagangan jangka pendek berada antara:
-
Support di 1,3250, dan
-
Resistance di sekitar 1,3450.
Sementara itu, indikator Relative Strength Index (RSI) menunjukkan kondisi yang sedikit bearish, mendekati level 40, namun belum menunjukkan sinyal jenuh jual.
Secara tren jangka menengah, pergerakan GBP/USD masih netral sejak akhir Mei, mencerminkan tidak adanya arah dominan di pasar. Posisi Moving Average (MA) 50-hari di 1,3465 juga mengonfirmasi bahwa tren jangka menengah cenderung datar sejak pertengahan Juli.
Osborne menambahkan, “Kami memperkirakan kisaran jangka pendek berada di antara 1,33 dan 1,34, dengan kecenderungan datar dalam beberapa sesi mendatang.”
BoE dalam Dilema: Inflasi Melemah, Tapi Pertumbuhan Masih Rapuh
Situasi ekonomi Inggris menempatkan Bank of England dalam posisi yang cukup rumit. Di satu sisi, inflasi yang melambat memberikan ruang bagi BoE untuk mulai menurunkan suku bunga. Namun, di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang masih lemah dan konsumsi domestik yang tertekan membuat bank sentral harus berhati-hati.
Langkah terlalu cepat dalam memangkas suku bunga dapat memicu pelemahan Sterling yang lebih dalam dan memperburuk defisit perdagangan. Sebaliknya, mempertahankan suku bunga tinggi terlalu lama dapat memperlambat sektor perumahan dan konsumsi rumah tangga.
Karenanya, analis memperkirakan BoE akan tetap mempertahankan suku bunga pada pertemuan November, sambil memantau data tenaga kerja dan inflasi inti untuk menentukan langkah selanjutnya pada kuartal pertama 2026.
Dolar AS Tetap Kuat, Menekan Potensi Rebound GBP
Dari sisi eksternal, Dolar AS (USD) masih mendapatkan dukungan kuat dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan ekspektasi kebijakan ketat Federal Reserve. Hal ini menahan potensi penguatan GBP dalam waktu dekat.
Namun, jika The Fed mulai memberi sinyal penurunan suku bunga pada awal tahun depan, Sterling berpeluang rebound terutama jika data ekonomi Inggris menunjukkan perbaikan stabil.
GBP Masih di Zona Netral, Pasar Menanti Sinyal Baru
Untuk saat ini, GBP/USD masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan netral. Pasar menanti arah baru dari BoE dan perkembangan situasi fiskal menjelang anggaran 26 November.
Jika inflasi terus melemah tanpa kejatuhan pertumbuhan ekonomi, peluang pemulihan Pound Sterling akan meningkat. Namun, selama Dolar AS tetap kuat dan BoE bersikap hati-hati, Sterling kemungkinan akan bertahan di kisaran 1,33–1,34 dalam waktu dekat.

One thought on “Pound Sterling Tertahan di Sekitar 1,33: Pasar Tunggu Keputusan BoE Setelah Data Inflasi Inggris Melemah”