Data inflasi Amerika Serikat untuk periode Juni 2026 tercatat lebih lemah dari perkiraan pasar, mendorong pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada pertemuan Juli mendatang. Indeks Harga Konsumen (IHK) umum melandai ke 3,5% secara tahunan, turun dari 4,2% pada bulan sebelumnya dan berada di bawah konsensus pasar sebesar 3,8%.
Perlambatan tersebut sebagian besar didorong oleh harga energi yang lebih rendah. Sementara itu, IHK inti โ yang tidak memperhitungkan komponen makanan dan energi โ juga melunak lebih dari perkiraan, turun ke 2,6% yoy dari 2,9% yoy, dengan inflasi inti bulanan yang stagnan.
Pasar Pangkas Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Juli
Data inflasi yang lebih lemah dari perkiraan ini membuat pelaku pasar menghapus sebagian besar peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Juli, sekaligus mengurangi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter sepanjang 2026. Meski demikian, pasar masih memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun.
Analis pasar valuta asing menilai bahwa penurunan inflasi ini memang mengurangi risiko kenaikan lebih lanjut pada imbal hasil obligasi AS, namun belum mengubah secara fundamental kondisi imbal hasil riil AS yang masih berada di level tinggi.
Dolar AS Melemah, USD/JPY Tertahan
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan Dolar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, melemah 0,3% merespons data inflasi tersebut. Pasangan mata uang USD/JPY ditutup 0,1% lebih rendah, setelah sempat anjlok sekitar 0,5% secara intraday begitu data IHK dirilis, sebelum kembali pulih menjelang penutupan perdagangan.
Imbal Hasil Riil Tinggi dan Ketegangan Geopolitik Masih Topang Dolar
Meski inflasi melandai, Dolar AS tetap mendapat dukungan jangka pendek dari dua faktor utama: imbal hasil riil AS yang masih tinggi, serta meningkatnya permintaan aset safe-haven akibat eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kombinasi kedua faktor ini membuat pelemahan Dolar relatif terbatas meski ekspektasi kenaikan suku bunga berkurang.
Baca juga, BPJS Kesehatan Defisit Rp17,13 Triliun, Dana Talangan Rp20 Triliun dari Pemerintah Belum Juga Cair
The Fed Tetap Waspadai Inflasi
Di tengah pelonggaran data inflasi, Ketua The Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan kembali sikap bank sentral AS yang tidak akan mentoleransi inflasi tinggi. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa meski data terbaru membuka ruang bagi sikap yang lebih longgar, The Fed tetap mempertahankan kewaspadaan terhadap risiko inflasi ke depan, sejalan dengan proyeksi pasar yang masih menyisakan satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.

