Keputusan The Fed menahan suku bunga di 3,75%–4,00% pada 28 Oktober 2026, disertai sinyal kenaikan Desember, berdampak ke Indonesia melalui tiga jalur: tekanan pada rupiah, yield Surat Berharga Negara (SBN) yang tinggi, dan ruang terbatas bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga. Peluang kenaikan Fed pada 9 Desember sekitar 85%, sehingga suku bunga global diperkirakan tetap tinggi lebih lama. Bagi masyarakat, artinya suku bunga kredit sulit turun dalam waktu dekat.

Apa Keputusan The Fed?
| Poin | Keterangan |
|---|---|
| Suku bunga | Tetap 3,75%–4,00% |
| Voting | 10–2; Lisa Cook dan Beth Hammack ingin naik 25 bps |
| Penilaian ekonomi | Dari “solid” menjadi “kuat” |
| Inflasi | “Masih tinggi” |
| Peluang naik 9 Desember | Sekitar 85% |
Sebelum rapat, RupiahRadar membahas skenario keputusan di tiga skenario FOMC Oktober 2026.
Bagaimana Dampaknya ke Rupiah?

Rupiah melemah bertahap sepanjang Oktober, dari sekitar Rp17.903 pada awal bulan menjadi sekitar Rp18.175 pada penutupan 28 Oktober, yang disebut sebagai penutupan terlemah sepanjang sejarah. Ekspektasi suku bunga AS yang tinggi membuat aset dolar lebih menarik dibanding aset negara berkembang. Setelah rapat, indeks dolar justru turun tipis ke 102,16, memberi sedikit ruang bernapas bagi rupiah, tetapi tekanan dasar belum hilang. Pergerakan sebelumnya dibahas di rupiah 27 Oktober Rp18.144.
Bagaimana Dampaknya ke SBN?

Yield Treasury 10 tahun naik ke sekitar 5,044%. Dengan yield SUN 10 tahun di sekitar 7,54%, selisihnya sekitar 2,5 poin. Selisih yang menyempit membuat SBN kurang menarik bagi investor asing yang juga menanggung risiko kurs. Akibatnya, yield SBN cenderung bertahan tinggi atau naik, dan harga obligasi tertekan. Hubungan yield dan rupiah dijelaskan di hubungan yield SUN dan rupiah.
Apa Artinya bagi Bank Indonesia?
Bank Indonesia menahan BI Rate di 5,75%. Dengan The Fed yang condong naik, BI menghadapi pilihan sulit:
- Menurunkan suku bunga dapat mendorong pertumbuhan, tetapi berisiko menekan rupiah lebih jauh.
- Menaikkan suku bunga dapat menahan rupiah, tetapi membebani kredit dan pertumbuhan.
- Menahan suku bunga sambil intervensi di pasar valas menjadi pilihan yang paling mungkin dalam waktu dekat.
Alat stabilisasi BI dibahas di tiga alat stabilisasi BI: spot, DNDF, SBN.
Bagaimana Dampaknya ke Suku Bunga Kredit dan Deposito?
- Suku bunga KPR dan kredit usaha kemungkinan sulit turun selama BI Rate tidak dipangkas.
- Bunga deposito cenderung stabil; penjaminan LPS bank umum di 3,75%.
- Kredit valas menjadi lebih mahal dalam rupiah karena kurs melemah.
Siapa yang Paling Terdampak?
| Pihak | Dampak |
|---|---|
| Importir | Biaya impor naik karena rupiah melemah |
| Perusahaan dengan utang dolar | Beban cicilan naik dalam rupiah |
| Eksportir | Pendapatan rupiah meningkat |
| Investor SBN | Harga obligasi tertekan, tetapi yield menarik |
| Debitur KPR bunga mengambang | Suku bunga sulit turun |
Mengapa Dolar Melemah Tipis setelah Rapat?
Setelah pengumuman, indeks dolar turun sekitar 0,16% ke 102,16. Penyebabnya, kenaikan Desember sudah diperhitungkan pasar sebelum rapat, dan dua dissent dianggap lebih sedikit dari perkiraan sebagian analis. Bagi rupiah, pelemahan dolar ini hanya memberi kelegaan terbatas karena faktor domestik seperti harga minyak dan arus dana asing tetap menekan.
Bagaimana Dampaknya ke Pasar Saham Indonesia?
Suku bunga global yang tinggi meningkatkan biaya modal dan membuat investor asing lebih selektif. Pada 28 Oktober, IHSG naik 0,31% ke 5.282,31 berkat beli bersih asing yang terkonsentrasi di BBCA. Namun lebih banyak saham turun daripada naik, menandakan kepercayaan asing belum pulih merata. Proyeksi IHSG pekan depan dibahas di proyeksi IHSG pekan 2–6 November.
Apa yang Harus Diperhatikan Masyarakat?
- Hindari utang dalam mata uang asing jika pendapatan dalam rupiah.
- Pertimbangkan bunga tetap untuk kredit jangka panjang jika tersedia dengan syarat wajar.
- Rencanakan kebutuhan valas seperti biaya pendidikan atau perjalanan lebih awal dan bertahap.
- Jangan panik terhadap pergerakan kurs harian; perhatikan tren dan kebijakan.
Apa Agenda Berikutnya?
- Data PCE AS pada 29 Oktober malam.
- Data tenaga kerja AS pada 6 November pukul 20.30 WIB.
- CPI AS pada 10 November.
- Rapat FOMC pada 9 Desember, pukul 02.00 WIB pada 10 Desember.
- Rapat Dewan Gubernur BI berikutnya.
Singkatnya, keputusan The Fed bulan ini tidak mengubah suku bunga, tetapi memperpanjang periode suku bunga global yang tinggi, dan itulah yang paling terasa bagi rupiah, SBN, dan biaya kredit di Indonesia.
Data resmi tersedia di Federal Reserve dan Bank Indonesia.
Artikel ini bersifat informasi. Data dapat direvisi oleh lembaga penerbitnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Mengapa dolar melemah tipis setelah keputusan The Fed?
Karena kenaikan Desember sudah diperhitungkan pasar dan dua dissent dianggap lebih sedikit dari perkiraan sebagian analis.
Apa keputusan The Fed pada 28 Oktober 2026?
The Fed menahan suku bunga di 3,75%–4,00% dengan voting 10–2, dua anggota menginginkan kenaikan 25 bps.
Bagaimana dampak keputusan The Fed ke rupiah?
Ekspektasi suku bunga AS yang tinggi membuat aset dolar lebih menarik, sehingga rupiah tertekan dan mencatat penutupan sekitar Rp18.175 pada 28 Oktober.
Apakah suku bunga kredit di Indonesia akan turun?
Kemungkinan sulit turun dalam waktu dekat karena BI memiliki ruang terbatas untuk memangkas BI Rate saat The Fed condong menaikkan suku bunga.
Bagaimana dampaknya ke SBN?
Yield Treasury yang naik menyempitkan selisih dengan SBN, sehingga yield SBN cenderung bertahan tinggi dan harga obligasi tertekan.
Kapan rapat The Fed berikutnya?
9 Desember 2026, dengan pengumuman sekitar pukul 02.00 WIB pada 10 Desember.

