Inflasi September 2026 tercatat 3,28% secara tahunan dan 0,30% secara bulanan, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), dengan penyumbang utama harga cabai, daging ayam, dan emas perhiasan. Angka ini mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia sebesar 3,5%, sehingga ruang kenaikan inflasi tinggal sekitar 0,22 poin persentase. Untuk Oktober, pelemahan rupiah ke sekitar Rp18.100โ18.200 per dolar AS dan harga energi yang tinggi menjadi risiko, sementara penurunan harga emas dapat sedikit menahan.

Apa Arti Inflasi 3,28%?
Inflasi tahunan 3,28% berarti rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat naik 3,28% dibanding September 2025. Inflasi bulanan 0,30% menunjukkan kenaikan harga dibanding Agustus 2026. Angka bulanan ini relatif tinggi untuk bulan yang biasanya tidak memiliki musim permintaan khusus seperti Lebaran.
Apa Saja Penyumbang Inflasi September?
- Cabai: harga cabai merah dan rawit naik karena faktor pasokan dan cuaca.
- Daging ayam: kenaikan harga pakan dan distribusi mendorong harga.
- Emas perhiasan: harga emas dunia yang sempat tinggi ikut terbawa ke harga perhiasan di dalam negeri.
Komponen inflasi pangan bergejolak dan harga yang diatur pemerintah dibahas di komponen inflasi Indonesia.
Mengapa Emas Perhiasan Masuk Penghitungan Inflasi?

Emas perhiasan termasuk dalam keranjang barang konsumsi yang dihitung BPS. Karena harga emas dunia bergerak besar sepanjang 2026, komponen ini sering menjadi penyumbang inflasi atau deflasi. Pada akhir Oktober, harga emas Antam turun ke Rp2.546.000 per gram dan emas dunia mendekati US$4.000 per ons, sehingga tekanan dari komponen ini kemungkinan berkurang di data Oktober.
Apa Risiko Inflasi Oktober?
| Faktor | Kondisi akhir Oktober | Potensi dampak |
|---|---|---|
| Rupiah | sekitar Rp18.100โ18.200 | Harga impor naik |
| Minyak dunia | Brent sekitar US$112 | Biaya energi dan logistik |
| Emas | turun mendekati US$4.000 | Menahan inflasi emas perhiasan |
| Pangan | tergantung cuaca dan panen | Bisa naik atau turun |
Data inflasi Oktober dijadwalkan dirilis BPS pada awal November. Jadwal lengkap ada di kalender data ekonomi awal November 2026.
Bagaimana Dampaknya ke Kebijakan Bank Indonesia?
Dengan inflasi mendekati batas atas dan rupiah tertekan, Bank Indonesia cenderung mempertahankan sikap hati-hati. Suku bunga riil sekitar 2,47% (BI Rate 5,75% dikurangi inflasi 3,28%) masih positif, tetapi jika inflasi naik lebih tinggi, suku bunga riil akan menyempit. Pertimbangan BI dibahas di dilema Bank Indonesia.
Bagaimana Dampaknya bagi Rumah Tangga?
Inflasi 3,28% berarti uang Rp1 juta setahun lalu kini hanya setara daya beli sekitar Rp968 ribu. Kenaikan harga pangan paling terasa bagi rumah tangga berpenghasilan rendah karena porsi pengeluaran makanan lebih besar. Penyesuaian anggaran dan pemantauan harga di pasar menjadi penting menjelang akhir tahun.
Bagaimana Dampaknya bagi Investasi?
- Deposito: bunga deposito setelah pajak bisa mendekati atau di bawah inflasi, sehingga imbal hasil riil tipis.
- SBN: yield sekitar 7,5% masih memberi imbal hasil riil positif yang cukup lebar.
- Saham: perusahaan dengan kemampuan menaikkan harga jual lebih tahan terhadap inflasi.
Apakah Inflasi Bisa Melewati 3,5%?
Bisa, jika pelemahan rupiah berlanjut dan harga pangan atau energi naik. Namun, penurunan harga emas dan langkah pengendalian harga pangan pemerintah dapat menahan. Ekonom memperkirakan inflasi akhir 2026 bisa mendekati batas atas sasaran.
Bagaimana Inflasi Dibanding Bulan-Bulan Sebelumnya?
Inflasi tahunan bergerak naik dalam beberapa bulan terakhir, dari kisaran yang lebih rendah di awal tahun menuju 3,28% pada September. Tren kenaikan ini sejalan dengan pelemahan rupiah dan kenaikan harga komoditas global. Jika tren berlanjut, inflasi akhir tahun bisa menyentuh batas atas sasaran. Proyeksi ekonom dibahas di proyeksi inflasi akhir 2026.
Daerah Mana yang Mengalami Inflasi Tinggi?
Inflasi berbeda antarwilayah. Daerah yang bergantung pada pasokan pangan dari luar pulau biasanya lebih rentan terhadap kenaikan harga ketika distribusi terganggu. Data BPS juga menunjukkan provinsi dengan inflasi tertinggi dan terendah setiap bulan, yang berguna bagi pemerintah daerah dalam menyusun langkah pengendalian harga.
Apa yang Bisa Dilakukan Rumah Tangga?
Rumah tangga dapat menyiasati kenaikan harga pangan dengan membeli bahan pokok di pasar tradisional atau grosir, memanfaatkan bahan musiman yang harganya lebih rendah, dan mengurangi pemborosan makanan. Untuk pengeluaran besar, rencanakan lebih awal dan sisihkan dana khusus agar tidak perlu berutang.
Bagaimana Membaca Data Inflasi dengan Benar?
Perhatikan tiga hal: inflasi tahunan untuk tren, inflasi bulanan untuk tekanan terbaru, dan inflasi inti untuk tekanan yang lebih mendasar. Kenaikan yang hanya didorong satu atau dua komoditas pangan biasanya lebih cepat mereda dibanding kenaikan inflasi inti.
Data resmi inflasi tersedia di Badan Pusat Statistik, sedangkan sasaran inflasi dapat dibaca di Bank Indonesia.
Artikel ini bersifat informasi. Data dapat direvisi oleh lembaga penerbitnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Mengapa emas perhiasan memengaruhi inflasi?
Karena emas perhiasan termasuk dalam keranjang barang konsumsi yang dihitung BPS, sehingga perubahan harga emas ikut memengaruhi angka inflasi.
Berapa inflasi Indonesia September 2026?
3,28% secara tahunan dan 0,30% secara bulanan.
Apa penyumbang utama inflasi September 2026?
Harga cabai, daging ayam, dan emas perhiasan.
Apakah inflasi masih dalam sasaran BI?
Ya, masih di dalam kisaran 1,5โ3,5%, tetapi mendekati batas atas.
Apa risiko inflasi Oktober 2026?
Pelemahan rupiah dan harga energi tinggi dapat mendorong inflasi, sedangkan penurunan harga emas bisa menahan.
Kapan inflasi Oktober dirilis?
BPS dijadwalkan merilis data inflasi Oktober pada awal November 2026.

